Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Kamus versi
online/daring (dalam jaringan) menjelaskan tentang kata patuh:
patuh/pa·tuh/ suka menurut (perintah dan sebagainya);
taat (pada perintah, aturan, dan sebagainya); berdisiplin
Kepatuhan suatu keadaan
kala seseorang dengan iklas dan sukarela menuruti perintah, aturan, nasihat
untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan.
Kondisi seperti ini pada
beberapa orang tak langsung dengan serta merta terjadi pastinya. Ada proses
untuk menjadi patuh. Ada pembelajaran untuk menuju pada kepatuhan.
Pada kenyataan hidup
kita, khususnya tahun 2020, kita langsung diminta untuk mempraktikan kepatuhan
itu. Kita langsung diminta mengaplikasikannya dalam hidup kita. Mempraktikkan patuh
melakukan protokol kesehatan di rumah dan di tempat umum. Patuh juga untuk
tidak memberi provokasi dalam situasi yang tak mudah ini. Patuh untuk dengan
hikmat memilih kata saat bermedia. Patuh juga dengan mempedulikan orang lain
dengan bersedia mengikiti aturan yang berlaku secara umum, misalnya mengenakan
masker.
Apakah itu mudah? Woow,
sudah tentu tidak. Rupanya untuk menjadi patuh dalam situasi seperti ini sangat
perlu tantangan. Tantangan terutama adalah dari diri sendiri.
Maunya ini liburan Natal
ini kita geblas pergi ke mana pun kita suka. Mengunjungi berbagai tempat nan elok.
Menyambangi tempat-tempat umum yang sungguh akan membuat hati menjadi gembira. Menikmati
kuliner yang lezat. Maunya kita liburan. Benar-benar liburan. Keluar dari
kebiasaan yang selama ini rutin dilakukan. Kebiasaan WFH, WFO, datang ke tempat
tertentu dengan protokol ketat: ukur suhu tubuh, cuci tangan, semprot cairan
antikuman, masuk pakai tedeng muka, memakai masker sepanjang hari yang bikin
engap, tidak boleh ngobrol bareng teman, padahal ngobrol/ngerumpi/gibah itu
sangat dicari. Pokoknya SEMUA yang dulu boleh-boleh saja dan tak masalah,
SEKARANG bisA mendatangkan PETAKA.
Nah, situasi macam begini
banyak membuat orang merasakan sumpek, sempit pikiran, dan membuat stress.
Wajar ketika kantor memberikan waktunya liburan, perasaan untuk sejenak keluar
dari situasi tersebut muncul. Rasanya ingin geblas pergi, cabut!
Hal yang sama juga
terjadi pada kami sekeluarga. Sudah membuat rencana merayakan Natal di kampung halaman,
berkumpul keluarga besar, mengunjungi sana-sini. Namun, situasi makin memerah. Kembali
kita melihat kenyataan bahwa tidaklah bijak jika kita memutuskan untuk
melakukan perjalanan tersebut. Akan ada banyak risiko yang akan terjadi dan
pastinya bukan main game yang bisa kita berhenti begitu saja. Ini real game. Game
dalam kehidupan nyata.
Maka di sinilah letaknya
kepatuhan. Kepatuhan yang didasarkan pada kenyataan yang dihadapi. Kita tidak bisa
egois dengan mempertaruhkan kesehatan diri, juga orang lain yang kita jumpai. Patuh untuk
menerima: baik saya tidak ke mana-mana. Saya di rumah saja. Beraktivitas
menyiapkan ini itu, membereskan macam-macam, menyiangi, memupuk, mendangir,
menyapu, mencuci, membongkar, membuat ini dan itu dll.
Dalam situasi penuh
tantangan dan bahkan krisis serta kondisi darurat, kita dapat belajar dari
Alkitab untuk meneladani Nuh dalam hal kepatuhan. Kisah tentang Nuh dan air bah
sudah sangat populer. Dia dan keluarganya, karena kepatuhannya, bisa terhindar
dari bencana air bah atau banjir bandang yang besar dan lama.
Pertanyaannya, bagaimana
agar kita bisa patuh dan dapat mengalami keselamatan serta damai sejahtera
hidup? Lalu apa manfaat konkret bila kita patuh? Mari simak jawabannya.
Kejadian 6: 22: Lalu Nuh,
melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya,
demikianlah dilakukanya.
Kejadian 7: 5: Lau Nuh
melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya.
Mengacu kembali kepada
arti patuh atau taat yang disinggung sebelumnya, bahwa patuh atau taat adalah
melakukan apa yang diperintahkan
otoritas. Ada 2 otoritas yang patut kita patuhi yitu: figur dan hukum. Pemilik otoritas
sebagai figur adalah Tuhan adalah Sang Pemilik Kehidupan, figur kedua adalah atasan
dalam hirarki organisasa (bisa dalam skala negara bisa dalam skala lembaga), figur ketiga adalah orang yang ahli dalam bidangnya.
Sementara terkait dengan
dengan hukum yang harus kita patuhi adalah pertama hukum Tuhan yaitu mengasihi
Tuhan dan mengasihi sesama. Dengan mematuhi 2 hukum ini janji akan damai
sejahtera, janji akan keteraturan, janji akan kebahagiaan dalam hidup kita, bisa
kita raih. Hukum yang kedua adalah hokum alam. Bila kita bertindak
semena-mena terhadap alam sehingga rusak, maka alam akan membalas dengan hal
yang destruktif yang bisa menghancurkan. Hukum yang ketiga adalah hukum lembaga
di mana kita tinggal dan bekerja.
Beberapa cara kita harus patuh akan otoritas di atas. Yang pertama
karena kita dipaksa atau diwajibkan untuk
patuh. Dipaksa patuh bukan sesuatu yang negatif dalam konteks ini. Misalnya
saat pandemic kita diwajibkan/dipaksa mengikuti berbagai peraturan agar kita
selamat. Alasan yang lain kita patuh kepada otoritas karean kita dipengaruhi
oleh komunitas yang patuh terhadap aturan tertentu. Dipengaruhi bisa menjadikan
kita positif untuk mengikuti otoritas. Yang ketiga manusia akan patuh pada
otoritas, bila ia memiliki kesadarannya sendiri. Ini merupakan kepatuhan yang
paling tinggi. Kesaadarn diri membutuhkan pengalaman, pendidikan, dan
pengetahuan.
Kepatuhan itu tentunya
membawa manfaat dalam hidup kita, yaitu pertama hidup kita akan menjadi lebih
bermakna bagi diri sendiri yang membawa keselamatan dari situasi yang buruk, kedua
hidup kita akan bermakna bagi sesama. Kita di dalamnya ikut membangun komunitas
yang patuh sehingga membawa keselamatan juga pada orang lain. Serta yang ketiga
adalah hidup kita lebih bermakna bagi semesta. Kita dapat berkontribusi bagi
kelstarian lingkungan, berkontribusi untuk memelihara lingkungan, dan juga
berkontribusi untuk mencegah kerusakan.
Begitulah kepatuhan yang bisa kita lakukan dengan penuh kesadaran. Kepatuhan yang dilandasi oleh iman,
harapan, dan trelebih besar lagi karena kasih. Dalam kepatuhan kita mempunyai
harapan bahwa semua akan menjadi semakin baik, dengan penuh iman kita meyakini
janji Allah sedang digenapi, serta dengan sepenuh kasih kita menwujudkan
kepatuhan kita sebagai bukti kasih kita akan diri kita, orang yang kita kasihi,
sesama, bangsa, negara, tanah air, dan terlebih lagi adalah Tuhan.
Selamat Natal 2020. Tetap
kita di dalam kepatuhan yang membawa keselamatan.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=GMiTS1gbcpk,
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Ch. Enung Martina)