Rabu, 06 Juli 2016

Liburan 2: Pusat Kerajinan Rumah Kayu Desa Woloan


Sebelum kami meninggalkan Tomohon, kami mampir dulu ke Desa Woloan Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Desa ini dikenal sebagai pusat kerajinan rumah kayu. Desa ini sudah sangat terkenal di Nusantara dan Mancanegara karena rumah kayunya. Pengrajin di Desa Woloan telah menerima pesanan dari berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali dan beberapa Negara di Eropa, seperti Belanda dan Perancis.

Warga desa  Woloan memilih profesi ini karena keuntungan yang didapat relatif besar. Selain  itu, pekerjaan ini merupakan pekerjaan turunan dari pendahulu-pendahulu mereka  yang memang telah dikenal handal dalam ranah kerajinan rumah kayu khas Minahasa  ini.

Terkenalnya rumah kayu tersebut di kancah dunia internasional tidak luput karena memang kerajinan tersebut unggul, baik dari segi kualitas dan nilai jual. Beberapa rumah kayu tersebut selain digunakan untuk rumah pribadi, juga difungsikan untuk cottage atau bungalow bagi para pengusaha wisata.

Desa Woloan memiliki kisah sejarah yang panjang. Desa yang telah berusia  lebih dari 150 tahun ini ada sejak tahun 1845. Konon, desa ini didirikan oleh  lima orang pemuka desa. Di antara kelimanya, disebut nama Walian Pontoh sebagai  hukum tua atau kepala desa yang pertama kali. Selain selaku pemimpin desa, ia juga  ahli pengobatan bagi masyarakat desa. Terkait dengan itu, nama Woloan berasal dari Walian.  Walian ialah  gelar adat yang dilekatkan kepada seseorang di dalam sebuah kelompok masyarakat  tertentu di Minahasa karena dianggap memiliki keistimewaan tertentu sehingga  ia pantas menjadi orang nomor satu di desanya.

Menurut Om Boy, pemandu kami, untuk bahan baku kayu sebagian besar didatangkan dari Palu, Sulawesi Tengah. Namun ada juga yang didatangkan dari Sulawesi Tenggara. Jenis kayu untuk pembuatan rumah kayu tersebut yaitu kayu cempaka dan meranti. Kayu cempaka mempunyai ciri khas berserat lurus, liat, tidak mudah patah, dan memiliki tekstur yang halus, begitu juga dengan kayu meranti.

Rumah kayu hasil produksi para pengrajin di Desa Woloan ini terkenal keunikannya. Salah satu keunikannya adalah  kayu tersebut dapat dibongkar pasang, seperti rumah joglo (Rumah Adat Jawa). Meski rumah kayu sangat sedikit menggunakan hiasan seni ukir dalam desainnya, tetapi memiliki desain arsitektur khas Minahasa. Para pembeli. tidak perlu khawatir untuk pengiriman dan perakitan rumah karena rumah kayu yang diinginkan akan dikirim ke alamat pemesan beserta tukang pasangnya. (Ch. Enung Martina)

Selasa, 05 Juli 2016

LIBURAN: DANAU LINOW


Danau ini merupakan objek kedua yang kami kunjungi dalam wisata kami di Manado. Danau Linow terletak di Desa Lahedong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon Minahasa Sulawesi Utara. Danau ini memiliki kadar belerang yang cukup tinggi sehingga warna danau mudah sekali berubah-ubah bahkan saat kami datang menampilkan 3 warna sekaligus. Kalau dilihat secara kasat mata warna tampak di hijau tosca, biru laut serta coklat susu, sungguh indah sekali ciptaan  Allah ini.

Perubahan warna itu disebabkan kandungan belerang di danau. Kandungan belerang itu sendiri karena di salah satu sisi danau terhubung langsung dengan sumber air yang mengandung belerang dan mengalir ke dalam danau. Penyebab lainnya karena pembiasan cahaya dan pantulan dari vegetasi di sekitar danau. Selain itu, warna  danau tersebut juga terpengaruh oleh terobosan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah awan dan memantul di permukaan danau. Hawa sejuk dan asri pepohonan di sekitarnya membuat  perjalanan terasa nikmat dan nyaman, apalagi saat kami sampai , hujan baru saja usai sehingga menambah kesejukan udara di Danau Linow.

Saya bertanya kepada pemandu kami, Om Boy, tentang seputar pengelolaan danau ini yang tampak bersih dan teratur. Om Boy mengatakan bahwa objek wisata ini dikelola oleh swasta. Sehingga, wajarlah bila pihak pengelola menjaga kebersihan, kenyamanan, dan kealamian danau ini untuk menjadi daya tarik yang bisa mendatangkan para wisatawan.

Danau seluas 35 hektar ini juga lengkapi lintasan trekking atau buat pejalan kaki, jadi kita bisa memutari danau dengan berjalan menikmati keheningan, keindahan dari berbagai sisi sudut danau linow. Kalau di lihat sekilas, danau ini  mirip Kawah Putih yang di Bandung, tapi Danau Linow ini lebih sepi, lebih terawat.

Di kawasan sekitar Danau Linow tercium aroma belerang yang cukup kuat, baunya seperti bau kentut. Di sini juga banyak ditemukan beberapa tempat pemandian air panas. Diduga, sumber belerang dan mata air panas tersebut berhubungan dengan Gunung Lokon yang masih aktif. Gunung yang terlihat gagah dan  elok dari pusat Kota Tomohon tersebut terakhir kali meletus pada September 2013.

Pengunjung juga bisa menikmati makanan di kafe yang terletak di sisi bukit yang mengitari danau. Menikmati kopi dan pisang goreng sambal ikan roa sungguh nikmat sembari melihat pemandangan ke seluruh area danau. Duduk berlama-lama di kafe terasa tak membosankan karena indahnya pemandangan danau dan sejuknya udara.

Jalanan menuju bibir danau terbuat dari kayu dan bambu yang dibangun seperti dermaga. Tepat di ujung jalan, sebenarnya tersedia sarana wisata berupa perahu kayuh (dikayuh dengan pedal mirip sepeda) dan kano yang bisa disewa. namun, kami tak menggunakan wahana itu. Kami hanya duduk menyeruput kopi dan menikmati pisang goreng sambal roa ditemani semilirnya angin. Kata Om Boy, pengunjung jangan coba-coba untuk berenang. Kandungan belerang yang tinggi bisa membuat tubuh terluka dan berakibat fatal.

Di sisi kanan danau terdapat sebuah bangunan rusak yang tampaknya dimaksudkan sebagai Pusat Informasi Geotermal dan Geowisata Tomohon. Sebenarnya pembangunan kantor semacam itu adalah inisiatif yang bagus, sayangnya bangunan belum selesai dibangun, dan entah kenapa dibiarkan begitu saja hingga rusak.  Om Boy menginformasikan kepada kami bahswa pembangunan oleh pemerintah itu pekerjaan yang sia-sia. Buang-buang uang dan energi, begitu ungkap Om Boy.

Menurut satu sumber yang saya baca, Linow berasal dari kata lilinowan yang artinya tempat berkumpul air. Kata itu diambil dari bahasa Tombulu atau bahasa dari salah satu etnis di Minahasa. Area Danau Linow seluas sekitar 35 hektar dan berkedalaman sekitar 5 meter bisa terlihat jelas dari atas bukit sebelum turun menuju bibir danau.
Setelah kami puas menikmati indahnya alam dan lezatnya kopi panas dengan pisang goreng sambal roa, kami mulai menaiki bis kami untuk menuju Kota Menado untuk makan malam dan beristirahat di hotel.

Meskipun jalan penuh liku, beruntung pemandangan asri sepanjang jalan dan hawa yang sejuk bisa mengusir rasa jenuh di perjalanan. Bahkan, kami bisa melihat pemandangan Laut Sulawesi dari jendela bis kami.  Jalan di Tomohon memang berliku dan melewati perbukitan. Sepanjang jalan Tomohon kami melihat penjual buah-buahan, seperti pisang dan langsat.  Hamparan hutan dan pohon cengkeh juga menjadi pemandangan sepanjang jalan. Beberapa teman, sudah mulai tertidur karena lelah dan bangun pada dini hari. Jadi, meskipun jalan penuh liku, kami bisa menikmati perjalanan dengan nyaman. (Ch. Enung Martina)




Jumat, 01 Juli 2016

BUKIT KELONG-BUKIT DOA

Salib Merah di Bukit Kelong

Liburan tahun pelajaran 2015-2016 ini, keluarga besar Santa Ursula BSD melakukan perjalanan ke Menado. Kegiatan ini dilakukan dari hari Selasa, 14 Juni  sampai hari Juamt, 17 Juni 2016. Peserta yang  ikut dalam tour ini adalah TU dan guru  yang bsudah mengabdi minimal 5 tahun ke atas.
Perjalanan kami mulai dari Santa Ursula BSD menuju Bandara Sukarno Hatta pada pukul 3.00 dini hari dengan bis. Keberangkatan kami ke Menado tepat pukul 05.30 dengan pesawat Garuda, flight GA602. Tiba di Bandara Sam Ratulangi pada pukul 09.55 WITA.

Bukit Doa Kelong menjadi tujuan perdana perjalanan wisata kami. Setiba di lokasi peserta mengikuti doa jalan salib menaiki bukit tersebut. Bukit Doa ini terletak di Kabupaten Tomohon, Sulawesi Utara.  Keindahan alam yang berpadu dengan sejuknya udara pegunungan  Tomohon, membuat setiap pengunjung betah untuk berlama-lama ditempat ini. Tak heran jika Bukit Doa Kelong menjadi salah satu tempat wisata religi yang dikunjungi para wisatawan, bukan hanya mereka yang berkepercayaan Katolik saja yang mengunjungi tempat ini.

Sebenarnya Bukit Doa Tomohon tidaklah begitu jauh dari Kota Manado, akan tetapi dikarenakan jalan dari Kota Manado menuju Kota Tomohon yang menanjak dan berbelok-belok, ditambah ruas jalan yang tidak terlalu lebar, membuat pengendara tidak bisa memacu kendaraan dengan cepat dan kami sebagai penumpang agak ser-seran melihat jalan berkelok-kelok.  Melihat jalanan di tenpat ini mengingatkan kita pada jalan di Cadas Pangeran yang mengubungkan Sumedang dan Bandung.
  
Memasuki jalan lingkar Tomohon, kami  disuguhi  nuansa hijau khas pegunungan  dengan daerah perbukitan yang masih asri. Di samping kiri dan kanan jalan yang menuju Tondano ini, kami bisa melihat hamparan sayuran dan taman bunga milik warga Tomohon. Jalan ini memang  akses untuk menuju  objek wisata alam Bukit Doa Tomohon atau yang biasa juga dikenal dengan nama Jalan Salib Mahawu.

Di beberapa titik kami  bisa melihat panorama Kota Manado dengan latar belakang laut dengan hamparan pulau Bunaken, Manado Tua dan Siladen. Menurut Om Boy, pemandu kami, meskipun begitu, tidaklah sulit untuk menuju ke tempat ini. Bagi para pelancong dengan biaya terbatas (backpaker), untuk menuju Bukit Doa Tomohon, dari pusat Kota Manado wisatawan  tinggal naik mikrolet (angkot) jurusan Wanea Samrat untuk menuju ke terminal Karombasan. Begitu tiba di terminal Karombasan, pengunjung bisa mencari bus jurusan Tomohon. Agar tidak tersesat, bicaralah kepada kondektur bahwa kita hendak menuju ke Bukit Doa Tomohon sehingga bisa diturunkan di pangkalan ojek yang siap mengantar kita.

Pemandangan alam yang begitu indah, bersih, sejuk dan tertata dengan rapi, menjadikan Bukit Doa Mahawu, sebutan lain  untuk Bukit Kelong,  bak sebuah magnet yang menarik setiap orang untuk berkunjung ke tempat ini. Atas semua kelebihan yang dimilikinya, tidak mengherankan jika Jalan Salib Mahawu menjadi lokasi perhelatan berbagai macam kegiatan mulai dari tempat wisata alam dan wisata religi umat Kristiani, lokasi out bond, lokasi gathering, tempat berlangsungnya pemberkatan nikah yang kudus hingga menjadi tempat menggelar pesta pernikahan dengan nuansa pesta taman. Namun, harus berhati-hati saat menapaki rute jalan salib terutama pada musim penghujan karena agak licin dengan lumut yang tumbuh di bebatuan sepanjang rute.

Untuk menuju Bukit Doa Tomohon terdapat dua pintu masuk. Pintu masuk pertama, dengan jalan kaki. Biasanya jalan ini dipergunakan bagi umat Katolik yang akan mengikuti Jalan Salib, prosesi untuk mengenang peristiwa sengsara Yesus Kristus. Di tanah yang berkontur berbukit-bukit ini terdapat perhentian-perhentian. Puncak via dolorosa ini adalah Chapel of Mother Mary. Di lokasi di atas bukit ini juga terdapat The Grotto of Mother Mary,  Gua Mahawu,  kafe , dan amphiteater.

Jalan salib kami lewati dengan khidmat, meskipun ada salah satu teman kami pada stasi IV tidak kuat karena kondisi badan yang tidak prima. Ada juga beberapa teman (yang fisiknya tidak memungkinkan) yang langsung menuju resto yang berdekatan dengan lokasi Gua Maria melalui pintu yang lain. Saat kami berada di stasi 12, gerimis mulai datang menjelang. Peserta yang membawa payung dan pelindung kepala lain segera mengeluarkan perbekalannya. Pada stasi 13  mulai deras sehingga pada Makam Yesus di stasai 14 hujan turun bagaikan dicurahkan langit Menado mengguyur kami.

Cukup lama kami menunggu di Makam Yesus hingga hujan agak reda. Beberapa peserta yang membawa pelindung kepala mulai menerobos hujan untuk menuju ke resto yang akan dijadikan titik pertemuan kami untuk makan siang bersama. Para guide mulai mendistribusikan payung secara bergantian untuk menjemput para peserta yang terjebak hujan. Sesudah menyelesaikan doa rosario, saya memutuskan menerobos hujan dengan payung biru yang saya bawa. Sebetulnya saya ingin mampir di Gua Maria sebelum menuju resto, tetapi hujan sangat deras mengguyur. Akhirnya saya terus menuju resto untuk menikmati makan siang kami.

Menu makan siang pertama kami di Menado adalah makanan khas Menado : ada nasi putih (agak ngeletis-belum begitu matang), paniki (kelelawar) dibumbu pedas, sate babi, balado ikan tongkol, rica-rica RW, sup brenebonen (kacang merah), dan kerupuk. Sebagai penutupnya semangka dan pisang.   Menu yang sungguh menantang karena ada lauk yang tergolong extreem food. Semua lauk saya coba sedikit-sedikit, kecuali RW karena saya tahu kapasitas darah saya. Ketika makan paniki, saya merasa kurang cocok karena aromanya yang kurang sesuai untuk saya. Namun, secara umum saya menyukai makan siang ini, terutama sup kacang merahnya yang beraroma rempah begitu terasa.

Usai makan siang, cuaca kembali membaik. Matahari mulai menampakkan diri lagi meski malu-malu. Awan mulai menyibak. Maka tampaklah di hadapan kami  pemandangan alam yang spektakuler tersaji didepan mata. Sambil berjalan di atas rerumputan dan membelakangi perbukitan Mahawu, kami  bisa dengan leluasa melihat pemandangan Gunung Lokon yang menjulang tinggi. Hijaunya perkebunan terpapar di depan mata. Udara segar dengan pemandangan yang menakjubkan akan membuat tubuh terasa seperti  mendapat suntikan energi. Pesona wisata alam ini membuat kami terpesona. Indah sekali, Jo! (Ch. Enung Martina)









Rabu, 08 Juni 2016

Yang Tak Terhindarkan



 Akhir-akhir ini saya menghadiri pemakaman salah satu teman yang usianya 10 tahun di atas saya.  Mbak Naning, begitu saya memanggil beliau. Ia sosok yang sederhana. Ia seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah negri di bilangan Jakarta.

Saya mengenalnya sudah lama. Dua puluh tahun barangkali saya mengenal dia. Paskah 2015 dia mengalami kecelakaan terkena semburan api saat dia menyalakan kompor ketika akan menghangatkan sup untuk adiknya, Mbak Anik, yang tinggal serumah dengannya. Sabtu, 4 Juni 2016 beliau dikabarkan meninggal.

Hari itu saya sedang sangat sibuk karena kegiatan penjualan seragam dan buku di sekolah yang berlangsung hingga pukul 16.00. Sepulang dari penjualan saya langsung ke gereja untuk mengikuti Ekaristi karena hari minggunya saya bertugas bakti sosial di Jelupang. Sungguh padat jadwal yang saya punyai. Saya memutuskan untuk hadir di pemakamannya di Jelupang pada hari Minggu tanggal 5 Juni sesudah saya pulang baksos.

Pertemuan saya yang terakhir dengan beliau pada bulan Maret 2016. Ia masih sehat. Kami mengobrol, makan siang dengan lauk tempe goreng,  sayur bening, rebus pete, sambal ikan, sosis sapi goreng, dan kerupuk.  Kami saling bercanda. Ada perasaan bahagia bertemu dengan sahabat yang dipertemukan Tuhan sedemikian rupa. Relasi yang indah yang memperkaya jiwa saya.

Kematian adalah salah satu episode hidup seseorang yang tak bisa dihindari. Ketika itu tiba waktunya, tak satu pun dapat mengelak. Namun, kala kita ditinggalkan mereka yang saatnya tiba untuk menyongsong kematiannya, kita merasa berat. Ada beberapa penyesalan mungkin. Seperti dengan Mbak Ning ini, saya juga mempunyai penyesalan karena saya belum menengok lagi sesudah 3 bulan berlalu. Saya menyesali kenapa saya tidak menyempatkan diri dari kesibukkan saya untuk barang sebentar menenegoknya.

Penyesalan tak akan berujung dengan kepuasan batin memang. Tiba saatnya saya sekarang melakukan untuk memberikan perhatian saya dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk mendoakan dia. mengirimkan cinta saya melalui kata-kata yang saya bisikkan untuk Mbak Ning, kakak, dan juga sahabatku.

Sesudahnya saya berjanji pada diri saya sendiri, saat hati saya menmanggil untuk datang menengok seseorang, lakukan, tak usah tunggu waktu luang, tak usah tunggu hari baik, tak usah berkilah sibuk, dan aneka alasan lain. Karena waktu ada yang memilikinya dan ada yang merngaturnya dengan cara tersendiri yang tak pernah diberitahukan kepada siapa pun.

Kamis, 28 April 2016

Imaginary Friend


Sebagai pendidik, saya sering bertemu dengan berabagai macam kasus anak dengan aneka permasalahannya.  Salah satu yang ditemukan adalah berhadapan dengan anak yang supersensitif.  Suatu kali saya sedang mengajar Bina Iman di kelas gabungan dalam pertemuan akbar Bina Iman Anak di Gereja St. Ambrosius,  Vila Melati Mas, Tangsel.  Saat saya sudah selesai mengajar ada selingan dengan gerak dan lagu yang diikuti oleh anak-anak berusia batita sampai usia 12 tahun itu.  Semua anak asyik  bernyanyi dan menari mengikuti irama musik dan mengikuti gerakan dari kakak-kakak Bina Iman Remaja yang sedang memeragakan gerakannya di depan. Salah satu anak laki-laki berperawakan besar dan  tinggi duduk menyendiri di pojok sambil berurai air mata dan tersedu-sedu. Saya kaget karena dalam suasana riang gembira begini ada anak yang sangat sedih. Sungguh suasana yang berlawanan.
Saya dekati dia. Rupanya di sana ada ibunya yang sedang menenangkan dia. Namun, apa yang dilakukan sang ibu sia-sia karena si anak masih meneruskan tangisannya. Saya datang dan berllutut di depan dia. Saat kegiatan anak-anak duduk di lantai bertikar. Saya tanya seputar alasan dia menangis. Jawabannya selalu “nggak apa-apa, Tante”. Lha, saya bingung, nggak apa-apa kok menangis sampai sesenggukan begitu.
Akhirnya saya ajak dia keluar ruangan. Dia mengatakan, “Aku mau pulang, jalan kaki saja.” Saya membawa dia jalan-jalan seputar komplek gereja dan akhirnya duduk di bawah pohon mangga. Saat berjalan dia masih menangis. Saat kami duduk pun masih menangis. Dia mengatakan, “ Aku memang suka begini, tiba-tiba menangis.”
Akhirnya masih dalam keadaan tersedan-sedan, kami mengobrol. Saya tanya dia seputar rumah, sekolah, dan minat, serta hobi dia. Sebut saja anak ini Lukas. Lukas bercerita bahwa dia sudah kelas lima. Ia bersekolah di SD Kristen dekat rumahnya. Lukas punya sahabat, tetapi sahabatnya ini egois. Dia mempunyai adik perempuan yang bersekolah di TK B di sekolah yang sama. Ia mempunyai hobi menggambar disain. Ia bercita-cita menajdi seorang desainer game. Ia suka bermain game Shadow Fight.
Ada yang menarik bagi saya karena dia mengatakan ia sering bertemu dengan tokoh dari game Shadow Fight yang bernama Shadow. Lukas mengatakan Shadow akan datang bila dia memikirkannya. Ketika saya tanya seperti apa sosoknya. Dia mengatakan dia seorang remaja putri dengan rambut panjang seperti salah satu kakak yang tadi tampil di depan. Maksud Lukas salah satu anak Bina Iman Remaja yang memberi contoh gerak dan lagu. Shadow tidak ada matanya. Ia berbicara dengan Lukas dalam bahasa Indonesia. Lukas senang karena ia bisa berbicara dengan Shadow.
Saya tahu bahwa Lukas yang sensitif ini mempunyai teman imajinasi. Namun, saya jadi agak heran karena usia Lukas yang sudah cukup besar masih menghidupkan teman imajinasinya. Yang saya tahu teman imajinasi anak akan berangsur hilang tatkala anak ini tumbuh makin besar. Pada usia anak kelas lima SD biasanya teman imajinasi mereka sudah tergantikan oleh teman nyata mereka.  Namun, sedikit berbeda dengan Luaks.
Rupanya anak ini termasuk anak yang tidak mudah mendapat teman dan membatasi pertemanannya karena sensitivitasnya. karena itu ia masih memelihara teman imajinasinya karena dia masih memerlukannya untuk saat – saat tertentu yang merasa dia tidak bisa menemukan orang di sekitarnya yang bisa ia percayai.
 Imaginary friend atau teman imajinasi atau teman khayalan ini dalam batas wajar memang menjadi bagian dari perkembangan anak. Teman imajinasi ini bisa muncul dari inspirasi sosok nyata orang yang dikagumi anak di dunia nyata, tokoh idola dari film,buku, games kesayangan atau benar-benar tokoh rekayasa imajinasi anak.

Teman imajinasi ini bisa datang dan pergi kapan saja dan di mana saja, atau bisa juga muncul di tempat-tempat tertentu. Anak tampak bermain sendiri bahkan bicara sendiri seolah-olah bicara dengan temannya. Teman imajinasi ini bisa muncul ketika anak umur sekitar dua setengah tahun hingga tujuh tahun saat daya imajinasinya mulai berkembang. Karena itu saya agak heran dengan Luaks karena ia sudah berusia sekitar 11 tahun.

Mary L. Gavin, MD mengatakan bahwa masa-masa prasekolah adalah “magic years” dengan aneka permainan imajinasi yang penting bagi tahapan tumbuh kembang anak. The magic of play. Menurut Marjorie Taylor dari University of Oregon, sebanyak 37% anak memiliki teman khayalan ketika bermain imajinasi. Menurut Patrick J. McGrath, OC, PhD, FRSC sebanyak 65% anak memiliki teman imajinasi. Bahkan menurut  AAP, siap-siap saja ketika preschool anda akan mengenalkan satu teman imajinasinya. Teman imajinasi ini bisa menetap beberapa waktu hingga berbulan-bulan lalu menghilang sendiri ketika anak siap untuk move on. Menurut  dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ  gejala ini akan mulai menghilang sekitar anak berumur 7 tahun, namun ada yang berlanjut hingga umur 9 tahun.

Kenapa anak punya teman imajinasi?
Teman imajinasi ini digambarkan sebagai sosok yang mendengarkan dan mendukung anak, menemani anak main, bisa melakukan hal yang anak tidak bisa, hadir spesial hanya untuknya dan tidak pernah menyalahkan anak. Pada kenyataannya teman khayalan ini membantu anak mengeksplorasi dunia khayalan sehingga daya imajinasi anak lebih bagus. Anak yang tidak terpapar televisi lebih sering mengalami, hal ini menunjukkan kehadiran teman khayalan memerlukan situasi saat  anak melakukan permainan tidak terstruktur. Teman imajinasi juga bisa muncul sebagai usaha anak menyembuhkan dirinya dari kejadian traumatik atau kesulitan hidup yang dia alami.

Terkadang anak juga akan meminta ibu atau orang lain untuk terlibat dalam permainan imajinasinya bersama teman imajinasi tersebut, misalnya anak minta ibu memotongkan kue untuk temannya, menyediakan tempat kosong untuk temannya, dll.

Jangan ragu mengakui keberadaan si teman khayalan. Hal itu mengasah imajinasi anak. Dan jangan khawatir, anak tidak akan kehilangan kontak dengan dunia nyata karena teman khayalan. Jika Anda bertanya seputar si sahabat dan membiarkan anak menjawab, kita memastikan bahwa sang sahabat berada di dalam kendali anak.

Namun bukan berarti kita harus membuatkan makan malam ekstra atau membiarkan anak melimpahkan kesalahan kepada teman khayalan saat dia memecahkan vas bunga. Kita  perlu tahu bahwa si sahabat hanya ada di dalam khayalan. Kita bisa “mengembalikan” anak ke dunia nyata saat diperlukan. Selebihnya, nikmati keajaiban yang dilakukan anak bersama “si sahabat setia” dan petik berbagai manfaat di bawah ini;

Teman imajinasi akan:
Memberi kesempatan anak mengembangkan kreativitas melalui berbagai jenis permainan dan mencoba banyak hal baru berdasarkan imajinasi.
Sebagai media untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi.
Mengembangkan emosi dan tindakan, seperti rasa takut atau marah berikut cara mengekspresikan perasaan tersebut dengan aman.
Memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur dan mengontrol si sahabat (misalnya teman imajinasinya adalah hewan kesayangan), karena dalam keseharian balita terbiasa diatur oleh orang-orang di sekitarnya.
Memberi ruang bagi kehidupan pribadi anak.

Untuk kasus Lukas, guru dan orang tua harus banyak berkomunikasi denagn anak ini. Kemungkinan Lukas masih memerlukan teman imajinasinya karena dia tidak nyaman dengan keadaan di sekitarnya termasuk orang-orang di sekitarnya. Karena itu guru dan orang tua harus membiasakan Lukas untuk bisa mengungkapkan perasaannya. Yang lebih penting guru dan orang tua harus mau menjadi teman dan pendengar bagi anak-anak.
 (Ch. Enung Martina)



Rabu, 27 April 2016

Blood is Thicker than Water


Proverb atau  peribahasa merupakan kata-kata bijak yang digunakan oleh masyarakat yang menggunakan bahasa tertentu dalam masyarakat tertentu dalam hidup  sehari-hari. Peribahasa biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu nilai kebenaran yang diakui dalam masyarakat tersebut.

Darah lebih kental dari air, ungkapan tersebut menggambarkan tentang persaudaraan yang dihubungkan oleh darah. Kata saudara sendiri makna dasarnya berkaitan dengan darah. Kata saudara bila dilihat dari maknanya : 1. orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau seayah saja); adik atau kakak; 2.  orang yang bertalian keluarga; sanak.  Namun, kata ini mengalami perluasan makna (generalisasi) sehingga berkembang menjadi:  3. orang yang segolongan (sepaham, seagama, sederajat, dan sebagainya); kawan; teman: dalam mengerjakan tugas ini, kita akan dibantu oleh saudara kita di kampung ini; 4. sapaan kepada orang yang diajak berbicara (pengganti orang kedua):Coba Saudara pikirkan masak-masak;  5.  segala sesuatu yang hampir serupa (sejenis dan sebagainya): Serigala merupakan saudara anjing.

Peribahasa darah lebih kental dari air mengungkapkan kepada kita bahwa persaudaraan yang dihubungkan oleh darah itu sangat erat. Bahkan ketika ada kekurangan atau kesalahan yang dilakukan oleh orang yang bersaudara, saudara yang lainnya akan mudah untuk memaafkan, memahami, memaklumi kesalahan dari saudaranya. Apalagi kalau itu saudara kandung. Seburuk apapun mereka, mereka tetap saudara kandung. Saudara kandung bisa disangkal, bisa ditinggalkan, bisa tidak diakui, tetapi tak bisa dibatalkan. Alam sudah mencatatnya, darah tak bisa dibohongi.

Bagi beberapa orang  saudara adalah satu-satunya harta yang paling berharga daripada uang atau lainnya. Seburuk apapun saudara, ia akan tetap  bisa menjaga hubungan baik dengan saudara sendiri.
Namun, dengan berbagai persoalan hidup,  persaudaraan sedarah terkadang menjadi renggang. 

Ikatan darah tak selamanya kental. Banyak sekali yang dapat menyebabkan tingkat kekentalan itu menurun tajam. Perselisihan, iri, dengki, cemburu, adalah berbagai sebab yang mungkin dapat mengencerkan kekentalan ikatan darah itu. Hingga ada orang mengatakan bahwa ternyata air dapat lebih kental daripada darah. Orang lain yang tak ada hubungan darah bisa lebih erat dan lebih dekat daripada saudara.

Ketika air pun bisa lebih kental daripada darah, di sini pula peran para sahabat dalam hidup seseorang. Pengertian dan penghiburan yang diterima dari para sahabat dapat membawa seseorang mengalami hidup yang bahagia. Persahabatan yang dibawa oleh saudara yang tidak sedarah pun bisa membawa seseorang mempunyai hidup yang berkualitas.

Bahkan, para sahabat bisa membawa seseorang  kembali pada sikap memaafkan dan mengampuni saudara sedarahnya yang sudah menaykiti dia. Saat itulah kekentalan darah dapat kembali dipulihkan. Ada pengandaian tentang peran sahabat yang dituangkan begitu indah dalam sepenggal lirik tembang lawas berikut ini : I said there is no reason for my fear. Cause I feel so secure when we're together. You give my life direction, You make everything so clear. And even as I wander, I'm keeping you in sight. You're a candle in the window, On a cold, dark winter's night. (Can't Fight This Feeling - Reo Speedwagon).

Ketika ada sahabat bersama kita, maka kita tak punya alasan atas setiap rasa takut yang kita miliki. Sahabat sejati akan menunjukkan pada kita pedoman hidup yang benar dan positif, dan membuat segalanya jadi lebih jelas dan simpel. Sahabat sejati bagaikan cahaya lilin di tengah dinginnya gelap malam di musim salju.

Dalam renungan saya malam Kamis, 27 April 2016, saya mmengetahui bahwa persaudaraan sedarah memang tak bisa dihapuskan oleh apa pun. Darah yang mengalir dalam tubuh saya terhubung dengan darah yang mengalir pada tubuh orang lain sebelum saya, semasa saya hidup, dan di masa mendatang ketika saya tidak hidup di dunia lagi.  Ada keterhubungan antaradarah seseorang, meski orang itu tidak saling kenal secara pribadi. Tidak menjadi masalah apakah keterhubungan itu erat atau renggang. Keterhubungan itu tak bisa dibatalkan. Dengan begitu seseorang harus memelihara keterhubungan tersebut. Melalui hal yang mungkin bisa dia lakukan meski jarak (masalah hidup, ruang, generasi, alam ) membentang.   Melalui apakah jarak  itu  bisa terhubung dan keterhubungan itu bisa dipelihara? Tiada lain melalui kata-kata yang dirafalkan dalam mantera atau doa.


Dalam doa orang mengenangkan para leluhurnya. Dalam doa orang menyampaikan harapannya bagi orang tua yang masih hidup atau sudah meninggal. Dalam doa orang mendoakan saudaranya yang berada  ribuan kilometer jauhnya. Dalam doa orang mennyampaikan pengampunan kepada saudaranya yang menyakitinya.

Dalam kata-kata berupa doa yang dibisikkan secara perlahan, atau  diucapkan keras, bahkan hanya sebatas dalam hati atau pikirannya, semuanya direkam oleh alam semesta yang menjadikannya energi positif untuk orang yang mendoakannya  dan orang yang didoakannya.  Doa tetap memelihara kekentalan darah. (Christina Enung Martina)

Jumat, 15 April 2016

MUDRA NATURAL DALAM MEDITASI






Puji Tuhan,  akhirnya saya mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan yang menggelayut di pikiran saya. Pertanyaan tersebut adalah: Mengapa saat meditasi yang lama (60 menit atau lebih) saya mengalami badan saya menari sendiri tanpa bisa dibendung atau dikontrol.  Pertama kejadian ini saya takut dan penasaran. Mengapa ini bisa terjadi. Saya bertanya kian kemari taka ada jawaban yang bisa memuaskan diri saya. Beberapa jawaban mengatakan bahwa ada entitas lain di luar diri saya yang ikut bermeditasi bersama saya. Ada sementara yang mengatakan digerakkan oleh energi di luar diri saya. Dari jawaban yang saya dapati tak memuaskan saya karena saya tidak merasa ada energi atau entitas lain yang membuat saya bergerak. Saya bergerak dengan sadar, sesadar-sadarnya. Bahkan ketika saya menari yang terbayang di benak asaya adalah Raja Daud yang menari-nari untuk memuji Tuhan atau Jalaludin Rumi yang menari berputar-putar. Bahkan, Daud, ketika ditertawakan salah satu istrinya ( Mikhal ) ia mengatakan bahwa ia akan melakukan gerakan yang lebih gila dan memalukan lagi bila itu untuk kemuliaan Tuhan.

Akhirnya jawaban tentang mengapa saat meditasi orang bisa bergerak sendiri bahkan menari,  saya dapatkan sendiri dari searching ke berbagai website yang beraliran mulai dari Hindu, Budha, kebatinan Jawa, kebatinan Islam, bahkan yang tak jelas alirannya pun saya sambangi. Saya menjadi website and bloger walking. Berkeliling menjelajah dunia maya demi mendapat jawaban yang memuaskan.

Karena saya ini tipe orang yang seperti Thomas Didimus, percaya bila sudah mendapat bukti, maka saya agak ragu kalau orang menjelaskan secara kelenik atau mistis. Bagi saya sesuatu bisa dijelaskan dengan akal budi dulu. Kalau akhirnya tak bisa dijelaskan, oke lah, saya terima saat itu sambil mencari jawaban yang lebih meyakinkan. 

Jawaban yang bisa memuaskan dari pertanyaan: Mengapa saat saya bermeditasi saya bisa  menari, meliuk, melingkar, gerakan-gerakan silat Taichi, Kungfu, gerakan tari Bali, Jawa, Sunda, tangan ukel, pantat nunggging, muter-muter, goyang kepala, badan bergetar, kepala memutar demikian cepat, kelojotan di lantai, guling-guling, nyembah-nyembah, dan aneka gerakan yang membuat saya takjub dan penasaran.

O, ya perlu diketahui meditasi saya ini meditasi tujuan kesehatan, bukan mencari ilmu atau kekebalan, apalagi pesugihan. Meditasi itu bernama Zhen Qi Sirkulasi. Saya mengenal meditasi ini dari suami saya tercinta, Yohanes Bob Hariyadi Martopranoto. Dia mengikuti meditasi dari suhu bernama Frans Sunioto, teman gereja kami. Suami saya bermeditasi untuk mengobati lututnya yang sering kaku karena peradangan. Anehnya bulan Maret 2015 dia pertama ikut meditasi ini, pada bulan Juli 2015 dia bisa mendaki Bukit Totombok, Cisantana, Kuningan, Jawa Barat, saat kami berziarah ke sana. Dulunya boro-boro mendaki bukit, jalan di rumah saja sakit. Nah, ini dia, saya mulai tertarik dengan kesaktian meditasi ini. Akhirnya, belajarlah saya dengan bimbingan suhu Bob. Begitulah saya menjalani  meditasi ini hingga punya pengalaman unik yang tak dialami suami. Awalnya dia juga heran. Ketika dijelaskan Pak Frans, bahwa itu bisa saja terjadi, akhirnya kami mengerti. Namun, saya belum mendapat penjelasan yang memuaskan hati. Jadilah saya bertanya kian kemari untuk mencari jawaban yang memuaskan.

Jawaban yang memuaskan saya antara lain:
Gerakan gerakan tubuh saat meditasi adalah hal yang wajar, karena terjadi resonansi energi yang di dalam tubuh dengan energi yang dari alam semesta. Kejadian ini dialami beberapa orang ketika lagi pembacaan mantra (orang Hindu-mungkin) atau doa saat berzikir (orang Muslim). 

Ada penjelasan dengan perumpamaan yang menurut saya bisa diterima:  Ada sementara pendapat mengatakan, saat meditasi tubuh kita menari itu sebenarnya kita sedang dalam keadaan benar-benar diam/hening. Ada sebuah   ungkapan "Gerak adalah diam, diam adalah gerak". Ketika melihat orang dalam meditasi  bergerak-gerak, sebenarnya justru dia itu sedang diam. Ketika tangannya bergerak-gerak, itu seperti ada orang lain yang menggerak-gerakan tangannya, memutar-mutarnya, merentangkan atau melipatnya. Sementara dia membiarkan "orang lain" tersebut menggerakan tangannya, ia tidak menolak, tidak pula menginginkan. Justru, kalau dia menahan diri untuk diam, itulah sebenarnya bergerak. Misalnya, Anda berkata kepada kawan Anda, "Diamlah, saya akan menggerakan tanganmu!" tapi kawan Anda itu mengekang tangannya, hingga beradu tenaga dengan Anda, maka Anda berkata, "Diamlah! diamlah! jangan melawan!" padahal tangan kawan Anda itu tidak beranjak dari tempatnya, tapi Anda merasakannya bergerak dan melawan. Justru, kalau kawan Anda membiarkan Anda menggerakan tangannya, Anda mengerti bahwa dia diam saja, manut, menurut, pasrah, tidak melawan.  

Ada lagi penjelasan yang menarik. Gerakan-gerakan itu merupakan gerak tubuh yang natural. Tubuh sedang mengalami mudra secara natural. Apakah mudra itu? Mudra adalah sikap-sikap tangan di dalam Yoga yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mudra adalah gerak tangan tertentu yang mengandung makna simbolis, sebagai perwujudan fisik dengan mempresentasikan beberapa mantra atau fomula-magis, yang pertama muncul dalam pikiran dan dilanjutkan dengan gerak mulut. Mudra sebetulnya merupakan salah satu wujud personalitas dari manusia untuk berhubungan dengan Sang Pencipta. Merupakan tiga jenis ekpresi yang terdiri dari tiga wujud personalitas dari manusia yang secara simultan dalam tiga bentuk aktivitas, yaitu gerak badan(mudra), ucapan, dan ingatan.

Kata "mudra" berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya "tanda". Indikasi mulai digunakan sikap-sikap tangan dalam upacara rupanya berasal dari suatu masa ketika para pendeta merapalkan mantra-mantra tertentu (yakni huruf-huruf atau sukukata-sukukata yang diyakini mampu memberi efek magis), pada saat yang bersamaan diikuti dengan bunyi yang berhubungan dengan bahasa Sanskerta dan gerak jari-jari tangan, itulah yang disebut mudra yang mengandung tenaga magis.

Mudra dalam meditasi bukan sekadar posisi tangan yang “estetis”, tetapi merupakan bahasa tubuh yang halus—cara tubuh, pikiran, dan energi saling berkomunikasi. Dalam banyak tradisi seperti Yoga dan Meditasi Buddhis, mudra dipahami sebagai “kunci energi” (energy seal) yang membantu mengarahkan aliran energi di dalam tubuh.

Di Bali mudra digunakan oleh para pandita dalam rangka pemujaan dan disebut dengan istilah "patanganan" yang mengandung makna gerak-gerak tangan. Bila kita memperhatikan peninggalan purbakala berupa seni arca, maka kita akan menjumpai berbagai sikap mudra. Di Candi Borobudur arca – arca dibuat dalam berbagai posisi mudra.

Wikipedia menjelaskan Borobudur dirancang membentuk mandala besar yang melambangkan kosmologi buddhis, suatu konsep alam semesta dalam buddhisme. Aslinya terdapat 504 arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana yang diwakili oleh masing-masing Dhyani Buddha. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Setiap mudra mempunyai fungsi dan maknanya sendiri. Contoh mudra:
Aksobhya Dhyani Buddha :
Dengan Bhumisparsa mudra yaitu telapak tangan kiri ke atas dan diatas pangkuan, telapak tangan kanan menelungkup di atas lutut kanan, menunjukkan bumi sebagai saksi.

Ratnasambhava Dhyani Buddha :
Dengan Wara Mudra yaitu telapak tangan kiri terbuka ke atas pengkuan, telapak tangan kanan terbuka diatas lutut kanan, memberikan anugerah dan berkah.

Amitabha Dhyani Buddha :
Dengan Dhyana mudra yaitu telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri di pangkuan bermeditasi

Amoghasidhi Dhyani Buddha :
Dengan Abhaya Mudra yaitu telapak tangan kiri terbuka diatas pangkuan telapak tangan kanan diatas lutut kanan dengan jari-jari terbuka ke atas, ibu jari ke dalam, artinya jangan takut.

Vairocana Dhyani Buddha :
Dengan Witarka mudra yaitu telapak tangan kiri terbuka diatas pangkuan, telapak tangan kanan diatas lutut kanan, tiga jari : tengah, manis, dan kelingking ke atas, ibu jari dan jari telunjuk membentuk lingkaran, artinya telah menguasai tiga loka (triloka) 

Sebagai seorang pemula dalam meditasi setiap pengalaman baru yang saya alami saya sering panik dan selalu bertanya “apa yang  terjadi dalam diri saya?”. Ketakutan saya sering tidak masuk akal, hanya berdasarkan pikiran atau imajinasi saya. Namun, seiring dengan latihan rutin ada banyak hal yang tadinya tak dimengerti akhirnya  pelan-pelan dipahami. Meditasi memang berat bagi saya. Mengapa? Karena saya merasa tidak nyaman dengan sensasi sakit, pusing, pegal, panas, gatal, pada berbagai lokasi tubuh saya. Rupanya memang tubuh sayalah yang tidak beres. Prana atau chi dalam diri saya mulai memberaskan hal yang tersumbat atau tak beres. Selain itu yang paling berat adalah saya harus masuk ke kedalaman diri. Itu yang sangat sukar.


Begitulah, akhirnya saya merasa puas karena pertanyaan saya terjawab dengan bisa dipertanggungjawabkan secara tekstual. Paling tidak masuk akal saya.  (Ch. Enung Martina)

Baca tentang Meditasi Zhen Qi Sirkulasi;
http://ursaminorblog.blogspot.co.id/2015/06/meditasi-perjalanan-menuju-sehat.html

http://ursaminorblog.blogspot.co.id/2018/03/visual-saat-bermeditasi.html