Jumat, 27 Desember 2019

LIBUR NATAL: MENYUNAT SI BONTOT

MENYUNAT SI BONTOT



Sunatan, khitanan, atau supitan, bagi anak laki-laki memiliki beberapa dimensi pemaknaan. Secara medis, khitanan merupakan tindakan operasi kecil dengan memotong “sang kulup” alias kulit penutup penis. Dari sudut pandang kesehatan, keberadaan kulit kulup ini justru bisa menghalangi proses pembersihan alat vital setelah bebuang atau kencing. Pembersihan yang tidak tuntas pada bagian tersebut jelas akan menjadi sumber penyakit yang sangat membahayakan alat vital.

Dalam kepercayaan Kristen sunat bukan suatu kewajiban agama. Berbeda dengan Islam yang merupakan kewajiban amalan agama sebagaimana telah dicontohkan semenjak Nabi Ibrahim AS.

Karena itu, kami sekeluarga mengkhitankan anak karena alasan kesehatan semata. Karena itu sunatan kami lakukan tanpa upacara adat atau keagamaan. Hanya biasanya berdoa sebelum dan sesudah sunatan. Tujuan berdoa sebelunya adalah memberikan dukungan secara rohani kepada anak agar siap menghadapi peristiwa sunat yang pasti akan dirasakan sakitnya oleh anak. Doa sesudahnya sebagai bentuk syukur atas terselenggaranya sunatan dengan baik dan agar diberi kesehatan dalam pemulihatan luka sunat.


Desember 2019, tepatnya hari Jumat, 27 Desember 2019, pukul 09.00, anak laki-laki bungsu kami disunat. Dia suda merasa siap pada usianya yang menginjak 9 tahun lebih 5 bulan. Maka liburan Natal ini setelah selesai Natalan bersama keluarga besar di Jawa Barat, jadilah si bontot, Abhimanyu, kami sunat.

Anaknya siap. Namun, kami orang tuanya dan 2 kakaknya yang besar yang panik. Tiba di RS Medika BSD, kami mendapat antrian ketiga setelah 2 orang anak terdahulu disunat. Rupanya rasa panik dan was-was juga terjadi pada 2 ibu yang antri lebih dulu di depan saya. Ya… sudah memang hati kaum ibu pasti degdegan menghadapi peristiwa sunat anak laki-lakinya. Saya kira normal.

Bagi saya peristiwa sunat Abhimanyu yang badanya lebih besar daripada 2 anak laki-laki yang antri lebih dulu tadi, meski usianya mereka lebih tua, akan membantu dia berkaitan dengan pertumbuhan psikologisnya juga. Sunatan juga bisa dimaknai sebagai garis batas peralihan antara dunia bocah menuju kepada dunia remaja atau usia baligh. Saya melihat akan baik bila sebelum mendapat Komuni Pertama di akhir kelas IV, Abhimanyu disunat dulu. Usia baligh dipahami sebagai usia saat seseorang sudah memiliki kesadaran pemikiran secara penuh maupun pengetahuan mengenai perbuatan yang berfaedah  dan sia-sia, bisa membedakan yang benar dan salah.


Secara medis, sunat adalah proses pelepasan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Sunat bisa dilakukan dengan metode pembedahan biasa atau pun dengan sunat laser. Itu 2 metode yang dijelaskan oleh Dr. Yana, seorang dokter di RS Medika BSD yang akan menyunat Abhimanyu. Dr. Yana seorang dokter bedah perempuan yang sudah terbiasa menangani sunat anak.

Selain itu Dr. Yana juga menjelaskan manfaat yang bisa didapatkan orang yang menjalani proses sunat, yaitu:
Khitan mengurangi risiko infeksi penyakit seksual menular seperti human papilloma virus (HPV) dan penyakit seksual menular seperti herpes atau sifilis. Meski demikian, pria yang sudah menjalani sunat harus tetap melakukan hubungan seksual yang sehat dan aman.

Mencegah terjadinya penyakit pada penis seperti nyeri pada kepala atau kulup penis yang disebut fimosis. Ini adalah kondisi saat kulup penis yang tidak disunat sulit untuk ditarik. Kondisi ini bisa menyebabkan radang pada kepala penis yang disebut balanitis.

Mengurangi risiko infeksi saluran kemih yang dapat merujuk kepada masalah ginjal. Infeksi ini umumnya lebih sering terjadi pada orang yang tidak menjalani sunat.
Mengurangi risiko kanker penis.


Mengurangi risiko kanker serviks pada pasangan. Risiko kanker serviks menurun pada wanita yang pasangannya telah menjalani prosedur sirkumsisi.

Membuat kesehatan penis lebih terjaga. Penis yang disunat lebih mudah dibersihkan, sehingga kesehatannya lebih terjamin dibandingkan yang tidak disunat.



Kami mengambil Rs Medika BSD untuk tempat menyunat Abhimanyu. Rumah sakit ini berlokasi di pusat kota BSD City, Serpong, Tangerang. Menempati area seluas 12.000 m2, gedung RS Medika BSD terdiri dari 7 lantai, merupakan rumah sakit yang menawarkan pelayanan kesehatan yang baik. Kebetulan saat liburan sekolah RS ini mempunyai paket sunat yang relative murah.


Saya punya pengalaman menyunat anak laki-laki 16 tahun lalu saat anak kedua (Aga) disunat. Namun, itu sudah sangat lama. Jadi pasti saya lupa lagi caranya. Jadi saya pelan-pelan belajar lagi melayani anak yang disunat. Masih gugup dan terkadang bingung. Namun, sejauh ini bisa diatasi dengan baik. Lukanya masih basah karena baru 2 hari. Masih bengkak. Agak harus berhati-hati untuk membersihkan luka dekat jaitannya.

Untungnya ada media game yang membuat anak bisa diam di rumah sehingga mempermudah perawatan dan pemulihan. Biasanya saya nyap-nyap aklau main agme lebih dari 1 jam. Yang ini saya biarkan dulu. Kecuali kalu sudah jamnya makan atau bersih-bersih.


Puji Tuhan, saya mengalami lagi melayani dan mendampingi, serta merasakan degdegan dan kepanikan  saat menghadapi anak yang disunat. Tugas seorang ibu memang tak akan ada akhirnya. Menjadi seorang ibu adalah anugrah, panggilan alam, dan penziarahan hidup. Dalam tiap langkah anak,  kita menjalankan panggilan kita dari mulai dia dalam kandungan hingga  besar pun tetap mereka seorang anak. Bukan begitau ibu-ibu?
 (Ch. Enung Martina)

JEJAK LANGKAH 26


Dominus Flevit,  Gereja Yesus Menangis




Lukas 19:41-44
“Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Menurut, Tradisi Yesus berdiri menangisi kota Yerusalem di bukit Zaitun. Di tempat ini sekarang ada sebuah gereja kecil yag bernama Dominus Flevit yang artinya Tuhan  menangis. Gereja modern ini dibangun dengan bentuk air mata yang menetes. Gereja ini mempunyai sebuah jendela yang besar dan indah di belakang altar. Dari jendela ini bisa kelihatan pemandangan kota yang indah. Di bukut ini, Yesus dapat melihat pilar-pilar marmer dan pintu tembaga dan benteng Romawi, Antonia. Ia juga dapat melihat konflik, kebencian dan kekerasan yag akan terjadi.



Dominus Flevit merupakan gereja katolik Roma yang berada di lereng Bukit Zaitun, berhadapan dengan kota tua Yerusalem. Gereja ini dipugar kembali antara tahun 1953–1955 oleh seorang arsitek Antonio Barluzzi dan dikelola oleh Ordo Fransiskan. Dominus Flevit diterjemahkan dari bahasa Latin yang berarti “Tuhan Menangis” dibangun dan didesain dengan bentuk mirip air mata Tuhan Yesus.

Selama pembangunan gereja modern, ditemukan kuburan kuno Yahudi yang diperkirakan dibangun pada abad pertama Masehi. Dalam kubur terdapat kotak-kotak dari batu yang berisi tulang. Dan kotak ini dapat dilihat oleh pengunjung. Ini merupakan kubur menurut tradisi Yahudi.


Gereja ini didirikan pada tahun 1891 untuk mengenang tangis Yesus atas Kota Suci pada waktu ia memasukinya dengan jaya pada hari Minggu menjelang sengsara dan wafat-Nya (Minggu Palma). Dalam Injil Lukas dapat dibaca bahwa, Ketika Yesus hampir sampai di Yerusalem, di jalan yang menurun pada Bukit Zaitun, semua pengikut-Nya yang banyak itu mulai berseru-seru memuji Allah dan mengucap terima kasih kepadaNya karena semua keajaiban yang telah mereka saksikan (Luk 19:37).


Gereja Dominus Flevit berdiri di atas runtuhan sebuah gereja Byzantine abad V, serpihan purba boleh dilihat di sebelah kiri pintu masuk, termasuk mozaik pelbagai warna yang sangat indah yang menggambarkan buah-buahan dan bunga.

Mozaik di atas mezbah pada pandangan pertama nampak  pelik – mozaik itu  menggambarkan ayam yang  membuka sayapnya. Ini adalah mozaik yang mengingatkan akan  episod dalam Injil Lukas, kata-kata Yesus: "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,   tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.   Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Lukas 13: 34-35).

Di belakang mezbah adalah tingkap besar yang menghadap ke Kota Tua. Kita boleh bayangkan apa yang saya lihat dari sudut ini : Yesus menangis atas Yerusalem. Ia memandang  rumah, istana; pertama sekali, sudah tentu, Bait Allah.  Namun, ketika Dia melihat kota nan indah, Dia juga melihat vision lain: penggulingan menara, memusnahkan bangunan Bait Allah, penghancuran kota, pembunuhan  beribu-ribu orang,  dan beribu-ribu pelarian berhamburan  di antara  bangsa-bangsa. Sebab itu, penuh dengan kesedihan, Tuhan menangis.


Kisah tentang Yesus yang menangisi Yerusalem ketika Ia mendekati dan melihat kota itu dari kejauhan adalah kisah tentang Allah yang penuh belas kasih. Dalam kisah itu, kita bisa melihat Allah yang mampu menyelami penderitaan yang akan dialami oleh umat-Nya kelak karena dosa-dosa dan penolakan mereka. Tempat Yesus menangisi Yerusalem itu berada di sekitar Bukit Zaitun. Dari jendela gereja Tuhan Menangis, kita memang bisa melihat keindahan Yerusalem.



Kota Yerusalem adalah kota yang direbut oleh Raja Daud dari orang-orang Yebus. Kota ini sangat strategis bagi Daud karena  berada di tengah-tengah Kerajaan Utara (Israel) dan Kerajaan Selatan (Yehuda). Di kemudian hari, oleh Daud, kota berbukit ini dijadikan pusat pemerintahan, sekaligus usahanya yang disebut sentralisasi ibadat. Sentralisasi ini dirasa perlu agar tidak ada lagi praktik penyembahan berhala yang tumbuh subur di beberapa tempat di Israel maupun Yehuda akibat kurangnya pengawasan yang ketat. Daud berencana membangun tembok kota dan Bait Allah di dalamnya, rencana yang baru terealisasi pada zaman Raja Salomo, anaknya.


Yesus menangisi penolakan orang-orang sebangsa terhadap diri-Nya. Penolakan mereka berarti penolakan terhadap keselamatan Allah sendiri. Karena itu, Yesus menubuatkan bahwa tembok-tembok kokoh Yerusalem yang menjadi benteng perlindungan umat Allah akan hancur. Nanti, dalam Luk. 21:6, Yesus menubuatkan sebuah akhir yang tragis bagi Bait Allah yang berdiri kokoh di dalam Kota Yerusalem, “Akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” Yang menjadikan Yerusalem kokoh dan kuat sebenarnya bukan tembok-tembok ataupun pasukan perang, melainkan Allah sendiri yang hadir di tengah-tengah umat-Nya.

Dia melakukan semua yang Dia bisa untuk berbicara tentang kebenaran dan bertindak dalam cinta sehingga bisa meyakinkan orang-orang bahwa kerajaan itu akan datang / telah datang. Namun, sebagian besar orang yang mendengar-Nya, melihat mukjizat-Nya dan merasa bahwa cinta-Nya tidak direspons. Yerusalem (yang berarti kota damai) akan menjadi zona perang dalam beberapa tahun. Sungguh ironis, tapi sangat menyedihkan, bahwa kota damai tidak tahu bagaimana menikmati kedamaian.


Kesedihan Yesus atas malapetaka besar yang akan menimpa orang Yahudi (ayat 43-44). Kita perhatikan bunyi ayat 43 Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu (tentara Roma) akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan (ayat 43), dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau (menghukum mereka)" (ayat 44). Kedua ayat ini paralel dengan Lukas 21, Matius 24 dan Markus 13 – tentang kehancuran kota Yerusalem.

Kesedihan Yesus atas hilangnya nanti jiwa-jiwa yang tak ternilai harganya sebagai akibat dari dosa-dosa yang belum atau tidak memperoleh pengampunan (ayat 44). …dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu… Tentang hal ini dihubungkan dengan catatan sejarah bahwa pengepungan kembali kota Yerusalem oleh tentara Roma di bawah pimpinan Jendral Titus tepat pada Hari Raya Paskah, yang pada waktu itu berjuta-juta orang Yahudi berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Paskah, dan mereka tidak bisa keluar lagi.


Akibat dari situasi ini, gudang-gudang penyimpanan bahan makanan yang sebagian sebagai hasil rampasan tentara Yahudi dari tentara Roma di bawah pimpinan Cestius, tidak dapat menyuplai kebutuhan makan bagi orang-orang Yahudi untuk bertahun-tahun lamanya, sehingga terjadi kelaparan yang hebat. Kondisi ini mengakibatkan inflasi yang tinggi: gandum sesukat seharga satu talenta; ikat pinggang kulit, sandal kulit, dan penutup perisai dari kulit menjadi pengisi perut; dengan nekat keluar sembunyi-sembunyi di luar tembok kota untuk mengumpulkan tanaman-tanaman liar, yang berakibat pada penangkapan dan penyiksaan secara kejam penduduk Yerusalem oleh tentara Roma, dan jika bisa lolos, mereka harus menghadapi perampok, yang tidak berkeprimanusiaan.


Betapa malangnya jiwa-jiwa yang diciptakan Allah itu akhirnya hilang, dan itu sangat menyedihkan hati Allah! Tangisan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang kasih-Nya tidak terbatas bagi kita. Air mata tidak selamanya pertanda kelemahan, tetapi sering juga merupakan lambang cinta.tanda kasih Kristus pada dunia.

Tangisan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang tidak mau memaksakan kehendak-Nya. Yesus adalah Tuhan yang memberikan kehendak bebas pada kita, itulah sebabnya ketika la memandang Yerusalem dan menangisinya, sebenamya Yesus bisa saja memaksa penduduk Yerusalem bertobat karena la punya kuasa untuk itu, tetapi Yesus bukanlah Tuhan yang memaksakan kehendak-Nya. Waktu Yesus menangis hal itu hendak mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya, tetapi kitalah yang mengambil keputusan untuk segera bertobat dan mulai berjalan di jalan Tuhan.


Hingga sekarang pun Israel (Yerusalem) masih tetap bergejolak dengan segala ambisinya. Catatan dari kutipan seorang biarawati ini bisa menjadi bahan refleksi untuk kita:
Sekarang dari jendela ini dapat dilihat Mesjid Al Aqsa dan Dome of The Rock yang suci bagi umat islam. Tembok Tepi Barat dari reruntuhan Bait Allah yang suci bagi orang Yahudi, dan gereja Makam Suci yang suci bagi orang Kristen. Bangunan-bangunan sudah berubah, tetapi konflik, kebencian dan kekerasan tetap ada. Jatuh di manakah  tetesan air mata Allah itu yang paling dekat?
(dikutip dari tulisan Sr. Ruth Marlene Fox OSB, buku renungan Sabda Kehidupan.)

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)

Sabtu, 14 Desember 2019

JEJAK LANGKAH 25


KISAH YANG TERSISA DI MAGDALA
Satu catatan yang tertinggal. Seharusnya ini berada di urutan jejak Langkah  antara 17-18. Namun, karena satu dan lain hal, catatan saya terpisah sehingga baru ditemukan setelah saya menulis Jajak Langkah ke-24. Tadinya jejak Langkah tidak akan saya tulis, tetapi banyak hal yang perlu diabadikan dalam tulisan agar tak hilang menguap tertelan lupa.
Flavius Yosefus (sekitar 37 M. – sekitar 100), yang terkenal dalam kapasitasnya sebagai seorang warga negara Romawi. Ia sebagai seorang sejarawan dan penulis apologetik Yahudi abad pertama keturunan imam dan raja-raja yang bertahan dan mencatat "Penghancuran Yerusalem" pada 70. Karya-karyanya memberikan pemahaman penting tentang Yudaisme pada abad pertama.
Flavius Yosefus menyebut sebuah kota yang kaya di Galilea, dihancurkan oleh tentara Romawi pada waktu Perang orang Yahudi (Bellum III, x,) yang mempunyai nama Yunani Tarichaeae dengan makna perikanan yang makmur. Yosefus tidak memberikan nama Ibraninya. Beberapa penulis mengidentifikasinya dengan Magdala.
Magdala (bahasa Aram: מגדלא / Magdala, artinya "elegan", "agung", atau "menara" (yaitu "tempat agung"); bahasa Ibrani: מגדל / Migdal, artinya "menara"; bahasa Arab: قرية المجدل / Qariyat al-Majdal) adalah nama paling sedikit dua tempat di Israel kuno yang disebutkan dalam Talmud Yahudi dan satu tempat yang disebut dalam Perjanjian Baru Kristen.
Perjanjian Baru menyebut sebuah tempat bernama Magdala yang diperdebatkan. Matius 15:39 mencatat, "He [Yesus] sent away the multitude, and took ship, and came into the coasts of Magdala". Namun, naskah-naskah kuno dalam bahasa Yunani Koine menyebut namanya "Magadan", dan sejumlah terjemahan modern mengikutinya. Meskipun beberapa komentator menyatakan dengan tegas bahwa keduanya merujuk kepada satu tempat yang sama, yang lain  mengatakan bahwa substitusi Magdala untuk Magadan hanyalah "mengganti sebuah tempat yang dikenal dengan sebuah tempat yang tidak dikenal". Nas paralel pada Injil Markus 8:10 menyebutkan (dalam mayoritas naskah) nama tempat yang sangat berbeda, meskipun sejumlah naskah menyebutnya Magdala atau Magadan dianggap melalui asimilasi teks Matius.


Keempat  Injil merujuk seorang murid Yesus yang bernama Maria Magdalena, dan biasanya dianggap bahwa nama itu berarti "Maria dari Magdala". Tidak ada informasi alkitabiah yang menyebutkan apakah ini rumahnya atau tempat kelahirannya. Kebanyakan sarjana Kristen menganggapnya berasal dari tempat yang dalam Talmud disebut sebagai Magdala Nunayya, dan ini juga tempat Yesus Kristus pernah mendarat dalam salah satu perjalanan-Nya sebagaimana dicatat dalam Injil Matius.

Magdala Nunayya — yang lebih terkenal, dekat Tiberias, Magdala Nunayya ("Magdala ikan-ikan"), yang menunjukkan lokasinya di  pantai Danau Galilea. Al-Majdal, sebuah desa Arab-Palestina yang dikosongkan menjelang Perang Arab-Israel tahun 1948 diidentifikasi sebagai situs Magdala ini. Munisipaliti Israel modern Migdal (Khirbet Medjdel), dikembangkan  pada tahun 1910 dan kurang lebih 6 km sebelah utara timur laut Tiberias, telah berkembang ke daerah bekas desa ini.

Magdala seperti yang kita ketahui tak lepas dari seorang tokoh perempuan bernama Maria Magdalena. Hingga pertengahan abad ke-20, Mary Magdalene, Maria Magdalena secara tradisional digambarkan sebagai pelacur. Beberapa penulis mengaitkannya dengan "Miriam Megaddlela" atau Miriam dengan kuncir rambut yang dikepang, dinamai dalam Talmud abad ke-2. Judul ini mengacu pada gaya   rambut perempuan, yang berkonotasi "pelacur", atau seseorang yang terlibat dalam pekerjaan yang memiliki reputasi buruk. Markus 16: 9 dan Lukas 8: 2 merujuk kepada Maria sebagai orang yang darinya 7 setan diusir, yang mengarah pada suatu kesimpulan bahwa dia adalah seorang wanita yang membutuhkan martabat yang dipulihkan. Lukas 8: 3 juga menyinggung kekayaannya, menyebutkannya sebagai yang pertama di antara para wanita lain yang mengikuti  Yesus karena keinginannya  sendiri untuk melayani (Lukas 8: 3). Salah satu wanita di perkumpulan tersebut  adalah Johanna, istri pelayan Herodes, dan mungkin seorang wanita yang terlibat dalam kehidupan istana. Apakah Mary Magdalene termasuk di antara wanita-wanita itu juga?


Berjalan di sekitar reruntuhan kota asal Maria Magdalena  memunculkan suasana abad pertama di mana ia tinggal. Kehadiran religius yang kuat dapat dibayangkan ketika seseorang berjalan di sekitar sinagoga abad pertama dengan model Kuil (Batu Magdala)  yang terletak di dalam sinagog. Literatur Rabinik menyebutkan sebuah sinagoge dan fondasi  midrash yang terkenal, bahkan menyebut seorang juru tulis, Rabbis Ishak, dan Yehuda. Salah satu dari 24 keluarga imam memiliki tempat tinggal  di Magdala, mungkin ia dari ordo Ezequiel. Apa pengaruh lingkungan keagamaan ini terhadap Mary Magdalene? Apakah dia orang yang taat beragama? Atau memberontak melawan ketatnya kepemimpinan penegak hukum agama dan adat?



Di tengah ketidakjelasan hidupnya, satu fakta pasti Maria Magdalena mengalami perubahan dalam hidupnya. Hidupnya berubah secara radikal setelah bertemu dengan Yesus dari Nazaret, sedemikian rupa sehingga dia mengikuti-Nya ke kaki salib (Yohanes 19:25) ketika banyak pengikut terdekatnya melarikan diri dalam ketakutan. “Sebelum dan sesudah pertobatan” Maria Magdalena disandingkan dengan 2 kisah Injil: wanita pezina (Yohanes 8) dan Maria dari Betania yang mengurapi Yesus dengan nard (parfum)  yang mahal (Yohanes 12). Bapa-bapa Gereja Awal dari Timur dan Barat memperdebatkan apakah “3 perempuan” ini adalah satu dan sama? Gereja Timur secara dominan menyatakan mereka adalah 3 wanita yang berbeda, sementara Gereja Barat tetap teguh dalam mengidentifikasi mereka sebagai satu dan wanita yang sama, Mary Magdalene.


Debat ini muncul kembali selama reformasi Protestan dan sekali lagi di antara para penafsir Alkitab pada pertengahan abad ke-20. Sekitar waktu yang sama, gerakan-gerakan feminis di Amerika Utara berusaha untuk membebaskan Mary Magdalene dari "stigma pelacuran" -nya, hanya untuk dilawan dengan pendekatan yang difokuskan kembali di gereja Katolik pada martabatnya yang dipulihkan melalui "Hidup Baru dalam Kristus". Pada 3 Juni 2016, Paus Fransiskus memprakarsai "peningkatan liturgi" untuk menawarkan kepada Maria posisi terhormat di antara para rasul yang terkenal dalam liturgi-liturgi. Dekrit ini menawarkan refleksi baru tentang kisahnya mempertimbangkan belas kasihan Tuhan dan kesaksian dari seorang promotor Kabar Baik yang otentik.


Dari kisah Mary Magdalene, kita bisa melukisnya sebagai ikon harapan. Maria jelas merupakan salah satu tokoh penonton yang penasaran, karena begitu banyak orang pada zaman Yesus ketika dia pergi ke kota-kota Galilea mengajar di rumah-rumah ibadat, memberitakan Kabar Baik dan menyembuhkan segala macam penyakit. Tentunya dia mendengar ajakan Yesus: "Bertobat dan percaya kepada Injil, karena Kerajaan Allah sudah dekat." Maria Magdalena  membiarkan kasih Yesus menjadi efektif di dalam hatinya. Dan itu dihargai dengan hasrat yang semakin besar untuk mengikuti-Nya dan menjadi yang istimewa untuk pertama kali memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus tidak mati, tetapi benar-benar hidup. Ini adalah undangan yang terus bergema hingga hari ini untuk semua yang ingin mengalami transformasi sejati dari kedalaman diri. Dan itu adalah kabar baik yang membawa harapan bagi mereka yang patah hati dan putus asa.

Untuk menghormati maria Magdalena yang mengalami perubahan ekstrim yang transformatif dalam seluruh hidupnya, maka didirikanlah sebuah tempat ibadat di reruntuhan Dusun Magdala.


Pusat ibadah kontemporer Magdala, diberi nama Duc In Altum , memiliki kapel dengan mosaik yang menggambarkan momen pertemuan Maria Magdalena yang sedang bertransformasi dengan Yesus. Tangannya terulur ke arah Yesus ketika jari-jarinya menunjuk padanya. Tujuh setan diusir saat tangannya yang lain bersandar di hatinya. Semua pengunjung dapat merefleksikan berkat penyembuhan dari satu pandangan, pandangan cinta tanpa syarat dan penerimaan yang menembus benteng palsu dari hati yang hancur dan mengembalikan ketenangan pikiran pada realisasi kebenaran martabat seseorang. Pengunjung bisa melihat "jari Allah yang mengusir setan dan Kerajaan Allah turun atas mereka" dalam Pribadi Yesus.

Fase Satu pengembangan Magdala termasuk desain dan konstruksi Duc In Altum. Duc In Altum mengambil namanya dari Lukas 5: 4 di mana Yesus memerintahkan Simon Petrus untuk "meluncur ke dalam" atau "mencebur jauh ke dalam".


Jejak Arkeologi
Di sisi lain, karya seni mengungkapkan pengaruh Yunani-Romawi yang mendominasi lingkungan budaya pada zaman Yesus. Orang-orang Galilea pada abad pertama telah menyaksikan dinasti Hasmonean Yahudi yang runtuh direbut oleh dominasi politik Romawi. Kebanyakan orang Galilea adalah penduduk pedesaan, petani dan nelayan. Magdala adalah kota tempat mereka bisa makmur dari mata pencaharian mereka. Itu adalah pusat perdagangan komersial dengan industri ikan yang berkembang, terutama pasar ikan,  dan acar. Tempat ini juga yang mengekspor barang-barangnya ke Roma. Sebagai pusat agama, budaya dan ekonomi, Magdala berdegup dengan  agama Yahudi dan di kota ini berhadapan langsung dengan pengaruh Yunani-Romawi.

Talmud mengakui Magdala sebagai kota yang makmur dengan reputasi tidak bermoral. Kematian kota ini pada 67AD yang dihancurkan oleh pasukan Romawi dipandang sebagai hukuman atas dosa-dosa dan kejahatannya. Bagaimana konteks budaya ini memengaruhi imajinasi wanita abad pertama? Apakah wanita muda, seperti Maria Magdalena, tertarik pada budaya Romawi yang kafir?


Berdasarkan hasil temua arkeologi, sinagog di Magdala ini saat ini adalah yang tertua yang digali di Galilea dan satu dari tujuh dari abad pertama di seluruh Israel. Sebuah koin dicetak di Tiberias pada 29 M ditemukan di dalam sinagoge, membuktikan bahwa sinagoge berasal dari abad pertama dan masa pelayanan Kristus. Karena Alkitab memberi tahu kita bahwa Yesus mengajar di seluruh Galilea, sudah pasti dia mengajar dan sering mengunjungi tempat ini.

Reruntuhan sinagog terpelihara dengan baik dan termasuk ruang masuk yang juga berfungsi sebagai ruang belajar (Taruhan Midrash), dan ruang untuk menyimpan gulungan Taurat.

Yesus pergi ke seluruh Galilea, mengajar di rumah-rumah ibadat mereka, memberitakan kabar baik kerajaan, dan menyembuhkan setiap penyakit dan penyakit di antara orang-orang. (Matius 4:23). Termasuk di Sinagog Magdala.


Salah satu temuan arkeologis terbaru yang paling signifikan di wilayah Galilea yaitu Batu Magdala.  Batu Magdala memiliki petunjuk yang akan membantu para sarjana membangun gambaran yang lebih lengkap tentang Yudaisme abad pertama. Batu Magdala kemungkinan merupakan penggambaran artistik tertua yang diketahui tentang kuil (sinagoga) Kedua.

Ada pun Batu Magdala bagian depan batu menggambarkan gambar pahatan tertua dari menorah bercabang tujuh.  Reruntuhan sinagoga yang ditemukan ini membawa  kegembiraan yang intens di antara para arkeolog di Magdala juga arkeolog lain.

Sisi panjang batu menggambarkan sisi bangunan dengan lengkungan berpilar, dengan desain tiga dimensi untuk menciptakan ilusi yang muncul di dalam kuil. Bagian belakang batu menggambarkan struktur berpilar dengan dua roda di atas bentuk geometris, menggambarkan api. Agaknya, bagian depan dan samping ukiran batu melambangkan Sinagoga Kedua di Yerusalem.  Sisi belakang yang menggambarkan roda dan api melambangkan Yang Mahakudus.


Batu itu ditutupi dengan simbol dekoratif yang berkaitan dengan struktur sinagoga dan benda-benda Yahudi seremonial. Benda-benda ini dapat membuka banyak misteri yang belum terpecahkan yang telah lama membingungkan para arkeolog.

Proyek arkeologi di kawasan Magdala ini dipimpin oleh Universidad Anáhuac México Sur (Universitas Anahuac Meksiko - Selatan bekerja sama dengan Universidad Nacional Autónoma de México (Universitas Otonomi Nasional Meksiko - UNAM) dan Otoritas Barang Antik Israel).


Berbagai peninggalan kuno ini menunjukkan bahwa Magdala jelas merupakan kota yang berpengaruh dan makmur pada masanya.  Hal tersebut sebagaimana dibuktikan oleh bangunan berdekorasi rumit yang telah ditemukan di sini. Beberapa bangunan yang diidentifikasi sebagai rumah besar, kemungkinan besar rumah para pedagang kaya Magdala, terletak di sepanjang jalan di selatan sinagoge. Rumah-rumah mewah ini ditaburi dengan lantai mosaik yang penuh warna dan rumit, yang masih dapat dilihat sampai sekarang. Fitur lain yang mengesankan dari kota ini adalah tiga mikvaot (pemandian ritual) yang merupakan yang paling awal yang ditemukan di negara ini untuk menggunakan air tanah. Perpipaan canggih dari mikvaot ini adalah satu lagi bukti bahwa Magdala berada di garis depan perdagangan dan budaya regional pada abad pertama.

Di masa jayanya, Magdala adalah kota terkemuka di sepanjang rute perdagangan yang mengelilingi Galilea. Ini tercermin dalam reruntuhan pasar yang luas dan dirancang dengan baik yang digali oleh para arkeolog. Sebuah jalan yang rata berada di pusat dan diapit di sisi timurnya dengan toko-toko yang kemungkinan menjual segala sesuatu mulai dari tembikar, barang anyaman hingga produk segar. Pentingnya industri perikanan Magdala dapat dilihat di beberapa toko ini, di mana kolam plesteran dengan berbagai ukuran dirancang untuk menahan tangkapan hari itu dan memperlihatkannya kepada pelanggan.


Salah satu penemuan paling mengesankan di reruntuhan pasar adalah sistem pipa berteknologi canggih yang menghubungkan toko-toko dengan akses individu ke air tanah segar. Sistem ini sangat  luar biasa untuk penemuan pada  dua ribu tahun yang lalu, bahkan lebih mencengangkan karena masih berfungsi sampai sekarang.

Kunjungan ke Magdala bagi saya mampu sedikit memberikan gambaran tentang kota purba di Israel. Suatu kemajuan yang sudah ada pada 2000 tahun lalu. Meski udara sangat panas saat kami berkujung, tak mampu membuat semangat eksplorasi kami surut. Terutama semangat untuk berswafoto.


Pusat wisata rohani Duc In Altum di reruntuhan Kota Tua Magdala membawa gambaran tersendiri bagi saya. Meski catatan saya tentang objek ini sempat ketelingsut karena terpisah dari bundelannya. Komplek Duc In Altum telah disebut sekarang dikenal sebagai "pusat spiritual yang  unik di Tanah Suci." Para peziarah sudah mulai mengunjungi Duc In Altum untuk berdoa, menyembah, merayakan Misa, dan mengalami kehadiran Tuhan kita yang telah bangkit. Duc In Altum menampilkan  lukisan, Kapel berbentuk Kapal, Kapel Mosaik, dan Kapel Encounter yang nyaman dan indah.


(sumber: https://www.magdala.org/. https://www.wikipedia.org)



(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)

Kamis, 12 Desember 2019

Tamu dari Baduy Dalam


TAMU PADA MINGGU KE-3 ADVENT


Masa Advent bagi orang Keristen merupakan masa penantian sebelum perayaan Natal tiba. Kata Advent sendiri berasal dari bahasa latin Adventus yang berarti kedatangan. Tujuan itu berupa persiapan untuk menyongsong Pesta Natal tanggal 25 Desember dan perwujudan masa penantian kedatangan Yesus Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Jaman. Kedua arti yang dimaksudkan di atas ini diketahui berdasarkan catatan-catan historis dalam gereja abad IV. Dan kemudian dipertegaskan dan dipertahankan kembali dalam Konsili Vatikan II yang pada saat itu melakukan pembaharuan liturgi.

Ada sebuah pengalaman yang unik berkaitan dengan minggu Advent ketiga tahun 2019 ini.  Cerita dimulai dari persahabatan saya dengan pemandu jalan ketika saya ke Baduy tahun 2005. Nama pemandu ini adalah Jasrip. Ia salah satu orang Baduy  Dalam yang membantu para wisatawan yang akan berkunjung ke Baduy. 




Kala itu saya ke Baduy bersama anak-anak SMA St. Ursula BSD. Ada 3 pemandu kami, 2 dari Baduy  Luar dan yang seorang dari Suku Baduy Dalam. 

Singkat cerita akhirnya saya menjalin ‘duduluran’ - persaudaraan dengan Jasrip. Bukan hanya teman atau sahabat, tetapi saudara. Setiap 1 tahun atau 2 tahun sekali Jasrip mengunjungi beberapa orang di Jakarta dan Tangerang. Saya salah satu yang dikunjunginya. Biasanya dia akan mengakhiri kunjungannya di rumah saya sebelum balik ke Baduy Dalam. Karena rumah saya paling dekat dengan jaln pulangnya dia ke arah Serpong, Parung Panjang dst, dengan berjalan kaki menyusuri jalan raya dan jalan setapak atau jalan kecil sebagai jalan pintasnya. 

Seringnya Jasrip berkelana tidak sendirian. Dia akan membawa 2 atau 3 orang kawan.  Dari Jasriplah persaudaraan saya dengan orang Baduy Dalam bertambah. Setiap kali mampir ke rumah kami, dia akan membawa 2 atau 3 orang temannya.

Saya sangat senang ketika para sadulur Baduy Dalam mengunjungi saya. Saya merasa terhormat karena mereka memilih untuk menginap di rumah saya. 




Sudah lima tahun terakhir ini para sadulur Baduy Dalam tidak berkunjung ke rumah saya. Sering saya nantikan kedatangan mereka yang tiba-tiba. Ujug-ujug datang di pintu pagar dan berkata : ‘Sampurasun!!! ” itu adalah suatu moment yang membuat hati saya terasa hangat sampai ke tulang sunmsum saya. Saya merasa saudara purba saya datang ke rumah saya. Tanpa kabar tanpa berita mereka datang. Karena mereka tak punya alat komunikasi. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena itu pilihan mereka untuk tak menggunakan benda-benda modern yang kita dewa-dewakan, bahkan menjadi berhala modern.



Nah, pada tahun ini Desember 2019, tanggal 10 Desember, pukul 09.13 pagi, mereka ujug-ujug datang di pintu pagar kami. Saya jelas sudah ada di sekolah. Yang ada di rumah adalah Bob, suami saya dan Aga, anak kedua saya. Aga belum belum berangkat kerja. Jadilah kabar kedatangan para sadulur Baduy saya terima di sekolah.

Akhirnya setelah lima tahun tak ada kunjungan dari para sadulur, sekarang lima orang datang di rumah saya. Jasrip, Sangsang, dan 3 orang remaja generasi penerus mereka yaitu Narja (anak Aldi), Karnadi (anak Jasrip), dan Nadi (anak Sangsang).

Kedatangan mereka membawa kegembiraan pada kami sekeluarga yang sudah lama menantikan kunjungan mereka.  Obrolan pun bergulir dari topik cuaca, keadaan keluarga, perjalanan, hingga alasan 5 tahun tidak berkunjung. Rupanya karena kesibukan di ladang mereka dan juga karena situasi politik negri yang membuat mereka tidak nyaman untuk bereprgian ke Jakarta. Meski mereka bukan orang-orang penakut dengan hal-hal yang akan menimpa mereka. Mereka adalah orang-orang pemberani untuk melintasi hutan, ladang, desa, dan kota untuk berjalan dengan kaki mereka tanpa alas kaki. Demi orang-orang yang mereka anggap sadulur mereka turun gunung dengan berjalan kaki. Jarak jauh mereka tempuh dengan berjalan kaki karena itu adalah ziarah mereka di dunia: untuk tetap patuh pada adat leluhur yang sudah menjadi takdir mereka.




Urang Kanekes - Orang Kanekes atau Orang Baduy/Badui merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang lebih, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Itu adalah sebuah pilihan yang tidak mudah untuk zaman modern seperti sekarang.

Suku Baduy Dalam atau Urang Kanekes Jero memang mempunyai peraturan dalam adat mereka Antara lain:
ü Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
ü Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
ü Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)
ü Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
ü Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Peraturan tersebut ditrunakn dari generasi ke generasi.  Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam.




Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes.



Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung). Berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Namun, berbeda dengan Narja, remaja berusia 21 tahun ini, ia menggunakan smart phone. Hal ini karena Narja yang sering tinggal dengan saudaranya di Baduy Luar unuk mencari nafkah. Jadi diijinkan untuk memaki HP ketika berada di luar Baduy Dalam. Tapi dia tidak boleh memakainya saat dia berada di Baduy Dalam. 


Jasrip, Aldi, dn Sangsang 


Begitulah sedikit tentang para sadulur dari Baduy. Bagi saya, kehadiran mereka ke rumah kami seolah membuka buku hidup tentang kisah mereka yang mungkin belum ada yang menceritakannya secara lengkap.

Selama saya bergaul denagn mereka, mereka adalah orang yang lugu, jujur, berani, teguh dalam pendirian, patuh pada peraturan adat, dan pekerja keras.  Di mana pun mereka berada peraturan adat selalu mereka patuhi. Namun, sisi lain, mereka adalah orang-orang yang bersahabat dan mau belajar. Meski tak ada kebiasaan untuk belajar di sekolah, beberapa orang Baduy bisa baca tulis dengan belajar otodidak. Narja, salah satunya. 




Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja. Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Soeharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis. Begitulah sedikit gambaran tentang mereka.

Saya merasa terhormat bisa mengenal mereka dengan segala keunikan mereka. Setiap kali mereka berkunjung, teman dan tetangga juga menjadi tertarik dengan mereka. Bahkan, Pak Bob, suami saya, pernah ada yang menyangka ngelmu ke Banten karena rumah kami sering didatangi orang Bduy Dalam. 




Pada bulan Desember ini yang sudah mulai sejuk karena sering hujan, membawa suasana tersendiri. Keadaan  yang dipengaruhi cuaca ini membawa suasana yang syahdu bagi saya. Mungkin juga karena menjelang Perayaan Natal. Ditambah lagi dengan kedatangan tamu yang dikirim Raja semesta Alam ke rumah kami. Tamu itu datang pada minggu ketiga Advent. Karena saya orang Sunda kedatangan tamu merupakan suatu hal yang penting. Bagi orang Sunda KEDATANGAN TAMU kerumah MENDATANGKAN KARUNIA YANG BANYAK ke dalam  rumah dan penghuninya.  Seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang, membawa rezeki untuk orang tersebut dari Tuhan. Ibu saya di kampung, paling senang dan gembira menerima tamu.



Terima kasih Jasrip, Sangsang, Narja, Nadi, dan Karnadi telah menjadi tamu saya pada minggu ke-3 Advent. Kedatangan kalian membawa sukacita bagi kami sekeluarga. (Ch. Enung Martina)