Minggu, 25 November 2018

FILM INDIA: FILM TAARE ZAMEN PAR






Retret tahun 2018 membawa saya pada sebuah film lama bertema pendidikan yang diproduksi 11 tahun silam ( tahun 2007). Nammun, film ini tetap relevan dengan dunia pendidikan dan profesi saya sebagai seorang pendidik. Film ini berjudul TAARE  ZAMEN PAR.



Taare Zameen Par (Seperti bintang-bintang di Bumi?) adalah sebuah film drama India tahun 2007 yang diproduksi dan disutradarai oleh Aamir Khan. Film ini mengeksplorasi kehidupan dan imajinasi Ishaan, anak disleksia berusia 8 tahun. Meskipun dia unggul dalam seni, tetapi  kinerja akademisnya sangat parah sehingga orang tuanya  mengirimnya ke sebuah sekolah asrama. Dari sekian guru yang mengajar Ishaan, tak ada satu pun yang menyadari bahwa anak ini mempunyai kelainan dalam belajar. Seorang guru seni rupa yang masih honorer melihat dan menyadari  bahwa anak ini  adalah penderita disleksia.  Bagi para guru yang lain Ishaan hanyalah anak bandel, malas, dan bodoh.

Ishaan Nandkishore Awasthi tidak suka sekolah dan gagal setiap tes atau ujian. Ia menemukan semua mata pelajaran yang sulit.  Karena ketidakmampuannya  itu, ia  diremehkan dan dimarahi oleh guru dan teman sekelasnya. Namun, dunia internal (imajinasi) Ishaan penuh dengan keajaiban yang dia tidak dimiliki oleh anak-anak  lain. Imajinya begitu hidup dan berwarna:  tempat-tempat  magis yang penuh dengan warna,  dunia animasi hewan yang imajinatif, dan benda-benda ajaib yang tak ditemukan di dunia nyata. Sebenarnya ia  adalah seorang calon seniman yang berbakat. Namun, sayangnya tak satu orang pun yang melihat itu, termasuk kedua orang tuanya.

Ayah Ishaan, Nandkishore Awasthi, adalah seorang eksekutif yang sukses dalam karirnya. Ia  mengharapkan anak-anaknya menjadi anak yang sukses seperti dirinya. Ibu Ishaan bernama Maya Awasthi, ia seorang perempuan yang meninggalkan karirnya demi mengurusi keluarga, khususnya kedua buah hatinya. Maya sering merasa frustrasi karena  ketidakmampuannya  untuk mendidik anaknya, Ishaan. Kakak Ishaan, Yohaan, adalah seorang murid  teladan dan juga atlet tenis, yang mengerti Ishaan.  

Setelah menerima laporan akademik semester pertamam di kelas 3 SD yang sangat buruk, orang tua Ishaan mengirimnya ke sebuah sekolah berasrama. Dengan harapan agar anak ini bisa lebih disiplin dan fokus dalam  belajar serta  tidak  malas atau bandel lagi.

Di sekolah asrama tersebut, Ishaan  tenggelam ke dalam ketakutan dan depresi karena jauh dari keluarga, tidak punya teman,  dan takut menghadapi sekolah yang disiplin dan tanpa ampun.  Namun,  ada salah satu anak bernama  Rajan Damodharan, seorang anak cacat fisik (memakai kursi roda),  yang mau berteman dengan Ishaan.  Karena kesepian dan depresinya yang mendalam,  ia bahkan memikirkan untuk  bunuh diri dengan terjun dari balkon.  

Sampai akhirnya ada seorang guru baru bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan). Guru ini menemukan hal yang berbeda dari Ishaan. Dengan kesabaran dan kerja keras tanpa putus asa, pak guru muda ini mendampingi Ishaan.  Bapak  Ram Shankar Nikumbh melatih Ishan sedikit demi sedikit untuk  membaca, menulis, melukis dan juga  menghitung dengan cara naik turun tangga. Hingga akhirnya,  Ishaan bisa memahami pelajaran dan menjadi seperti layaknya anak anak lain.

Pada akhir tahun pelajaran bapak Ram Shankar Nikumbh mengadakan lomba melukis yang di ikuti oleh semua siswa  dan para guru. Namun,  pada saat lomba itu berlangsung,  Ishaan menghilang, tak nampak di antara  para peserta lomba. Ram Shankar Nikumbh mencari Ishaan dan menanyakan ke sahabat Ishaan, Rajan Damodaran,tetapi dia tidak tahu dimana Ishaan berada.

Akhirnya, setelah lomba berselang cukup lama, Ishaan datang untuk mengikuti perlombaan tersebut. Ishaan melukis dengan imanijasinya yang tinggi. Semua imajinasinya ia tuangkan dalam karyanyaa sehingga hasilnya nampak hidup dan berwarna.  Tibalah saatnya para  juri menilai karya para peserta lomba.  Ada 2 karya terbaik dalam lomba itu yaitu karya Ram Shankar Nikumbh dan   lukisan Ishaan Nandkishore Awasthi. Dengan berbagai pertimbangan, para juri akhirnya memutuskan karya Ishaan-lah yang terbaik.

Pembagian rapot kenaikan pun tiba. Para orang tua datang untuk menerima hasil laporan belajar anak-anaknya dan juga sekalian menjemput mereka untuk berlibur. Demikian pula orang tua Ishaan pun datang menjemputnya. Betapa kagetnya kedua orang tuanya, karena nilai Ishaan baik. Tak kalah membaggakannya karena lukisan Ishaan menjadi sampul belakang  buku tahuanan sekolah, sementara wajah Ishaan (lukisan karya Ram Shankar Nikumbh)  menjadi sampul depan .   

Tentu saja keluarganya tak menyangka ini terjadi pada anaknya. Mereka sangat bangga akan prestasi Ishaan.  Berkat kepedulian, kesabaran, dan ketelatenan, serta perhatian seorang guru; Ihsaan akhirnya selamat dari kegelapan yang selama ini menyelimutinya. 





Selamat hari guru untuk semua guru di seluruh pelosok Tanah Air! Ibu dan Bapak adalah para pahlawan nyata di zaman now! Kiranya kisah seorang guru Ram Shankar Nikumbh yang masa kecilnya mengalami disleksia menjadi inspirasi untuk kita semua dalam menjalankan tugas mulia kita. Saya teringat para guru saya yang sudah sepuh dan yang sudah tiada. Bagimu, guruku doa dan hormatku. (Ch. Enung Martina)

Senin, 19 November 2018

CINTA DAN RASA AMAN




Ada sejenis pohon di Pulau Salomon untuk menebangnya tidak perlu gergaji atau peralatan lainnya. Warga cukup berkumpul lalu melakukan ritual memaki-maki pohon itu. Pada hari ketiga pohon itu layu dan warga tinggal menggunakannya.

Begitu dahsyatnya kata-kata. Sama dengan manusia ketika seorang anak terus dicaci maki, maka dia pun lama-kelamaan akan layu dan mati secara mental, bahkan fisiknya juga. Kata-kata berpengaruh terhadap pertumbuhan kepribadian seorang anak.

Pertumbuhan pribadi seorang anak dimulai ketika ia merasa dicintai dan merasa aman. Cinta dan rasa aman akan membawa anak apda rasa percaya diri dan juga tumbuh cinta adalam hatinya. Modal percaya diri dan rasa cinta ini akan menjadi investasi besar dalam pertumbuhan pribadi seorang anak. Dengan investasi dalam dirinya seorang anak kelak akan juga mampu mencintai dan menghargai orang lain dalam kehidupannya. Rasa empati akan tumbuh subur dalam diri mereka.

Saya memperhatikan pertumbuhan ketiga anak saya. Khususnya yang 2 anak yang bukan remaja lagi. Mereka sekarang sudah menjadi anak-anak dewasa yang sudah bekerja dan berkarya dalam dunia yang mereka pilih.  Saya mengalami tahun-tahun emas dalam pertumbuhan mereka. Senyatanya setiap  usia dalam kegidupan anak itu tahun emas karena tiap usia mempunyai tantngannya tersendiri dan memerlukan relasi yang pas untuk tiap usia.

Namun, tahun emas yang selalu diperbincangkan para ahli pertumbuhan anak adalah usia Antara 0-5 tahun sebagai tahapan pertama, lalu tahap berikutnya dari 5-11 tahun. Tahap ketiga tak kalah penting saat anak memasuki akil balig yaitu usia 12-15 tahun. Bukan berarti tahapan berikutnya tidak penting. Tahapan masa anak masuk ke SMA mereka sudah lebih bisa mandiri secara fisik juga mental mereka.

Ketiga tahapan itu memerlukan metode pendekatan yang berbeda pada diri anak. Tahap pertama orang tua akan direpotkan dengan hal-hal yang mendukung  pertumbuhan fisiknya seperti makan, minum, memerangi sakit ini-itu, imunisasi, kebersihan, dll. Pendekatan dari sisi relasi tak kalah penting dengan pertumbuhan fisiknya. Kehadiran kedua orang tua pada saat ini membuat anak merasa dicintai dan memiliki rasa aman. Maka, anak akan tumbuh dengan ceria dan sehat secara fisik dan mental.

Tahapan kedua adalah pada masa pertumbuhannya memasuki jenjang pendidikan dasar di Sekolah Dasar. Anak mulai meninggalkan masa kanak-kanaknya menuju masa anak-anak. Pada masa ini bekal cinta dan rasa aman yang besar akan membuat anak punya rasa percaya diri dan patuh pada orang dewasa yang mendampinginya.  Didikan yang diterapkan pada diri anak akan diterima dengan baik meskipun ada kalanya ia juga protes dan mengalami kesukaran untuk beberapa hal. Namun, dengan perasaan dicintai dan rasa aman yang dimilikinya membuat anak ini mempunyai pribadi yang PENUH. Kepenuhan inilah yang membuat anak mampu melalui tantangannya saat dia tidak bisa matematika, tidak mengerti bahasa Indonesia, menghadapi guru yang cerewet dan galak, menghadapi bully dari teman, dan banyak lagi tantangan dalam hidup dia.

Penerapan disiplin yang sesuai dengan usia akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang makin kuat dalam hal tanggung jawab dan kemandiriannya. Nilai kepedulian pada orang di sekitarnya dan juga lingkungan diterapkan sesuai dengan porsinya sehingga sisi kepeduliannya dan penghargaannya juga tumbuh. Sangat penting juga pengembangan nilai religiusitas dari sejak dini diberikan. Buat anak mengandalkan dirinya pada yang transenden sehingga pada saat dia mengalami tekanan dia bisa tetap seimbang.

Pada pertumbuhan kedua tahapan emas ini peran orang tua, terutama ibu sangat dominan. Seorang ibu adalah sosok yang bisa memelihara, merawat, mengerti, mendidik, menerima, sekaligus juga sebagai polisi yang mengawasi dan mendisiplinkan anak. Bila anak merasa sedih, takut, dikucilkan, merasa tak mampu, marah, dan aneka emosi negatif lainnya; ia bisa mengandalkan orang tuanya, secara istimewa IBU.

Bisa dibayangkan seorang anak yang sedih, marah, atau terluka; tanpa sosok orang tua (ibu). Anak ini akan menghadapi emosi negatifnya sendirian tanpa ada orang yang memahami dan berpihak kepadanya. Emosi itu memang nampaknya berlalu pada keesokan harinya, tetapi emosi itu mengendap dari waktu ke waktu dan terbawa menjadi bagian bawah sadarnya. Hingga akhirnya kita menyadari bahwa perilaku pembenrontakan dan pembangkangan anak ini nampak pada saat dia memasuki masa akil balig. Anak menjadi sangat bengal dan susah diatur. Bahkan beberapa kasus orang tua kalah dengan anaknya karena anak sangat berani terhadap orang tuanya. Orang tua tak dihargai lagi oleh anak yang mengalami ketidakhadiran orang tua saat masa-masa sulit pada tahapan emas pertama dan kedua. Ada ruang kosong yang ‘jeglong’ pada mereka sehingga mereka tidak mengalami kepenuhan. Dan kekosongan ini sangat sukar untuk diisi kembali karena masanya sudah berlalu.

Masuk pada masa emas tahap ketiga, masa akil balig. Masa ini susah-susah gampang. Dikatakan mudah, bila dilihat dari kemandirian anak. Usia 12 tahun anak sudah mandiri untuk mengurus makan-minumnya, kebersihan dirinya, pakain,  dan juga urusan pelajarannya. Orang tua tidak perlu repot menyuapi, memandikan, atau mendandani anak. Namun, ada juga tantangan mengahadapi anak akil balig. Anak ini cesara fisik sudah besar, tetapi secara mental masih kekanak-kanakan. Mereka akan tersinggung bila dianggap masih anak kecil, tetapi di sisi lain untuk banyak hal dia masih perlu bimbingan, pendampingan dan kehadiran orang tua.

Masalah yang sering ditemukan pada usia ini berkaitan dengan relasi (dengan teman, guru, orang tua) juga kedisiplinan dalam belajar. Mereka sudah merasa menjadi anak besar dan menyepelekan beberapa hal. Hal ini tentu saja membuat orang tua dan guru yang melihatnya sangat geregetan. Maka akan terjadilah kesalahpahaman yang akan dilanjutkan dengan berbagai drama kehidupan remaja seperti pada adegan sinetron dan drama korea.

Drama keanehan masa akil balig ini tak akan terjadi bila ada relasi yang baik antara orang tua dan anak. Relasi yang baik adalah relasi yang sesuai dengan usianya. Jangan terlalu mendikte anak akrena dia akan memberontak merasa diperlalukan sebagai anak kecil. Namun, juga jangan terlalu dilepas karena ada beberapa yang bisa membahyakan dia. Dampingi layaknya seorang teman yang paham akan keadaanya. Beri kepercayaan dan jangan terlalu banyak mendikte dan melarang. Berbicara dan berdiskusi sebagai teman untuk meminta tanggapan dan pendapatnya. Biasakan terbuka dengan saling mempercayai. Lama kelamaan anak akan merasa aman dan nyaman sehingga dia terbuka pada orang tuanya untuk berbagai permasalahannya.

Penting untuk orang tua mengenali teman-temannya, kesukaannya, bintang idolanya, dan media sosial yang digunakannya. Orang tua yang terkesan ‘gaul’ akan banyak mengenal anaknya dengan dunianya yang tentunya akan membuat mereka merasakan kehadiran orang tua  pada masa akil balig mereka.

Juga tak kalah penting orang tua tidak memaksakan kehendak kepada anak pada usia ini. Cari cara agar apa tujuan yang ingin dicapai bisa diterima mereka dengan masuk akal. Mereka akan bisa menerima apa pun asal mereka paham dan melihat faedahnya bagi mereka.

Anak itu cerminan dari orang tuanya, begitu ungkapan yang sering kita dengar. Agar cermin itu jernih dan tak retak atau pecah, maka tugas kita menjaga, merawat, serta yang paling utama memberikan cinta dan rasa aman pada mereka. Dengan cinta dan rasa aman ini, mereka akan berselancar di dunia mereka dengan penuh rasa percaya diri dan ada di jalan yang benar. (Enung Martina)

Minggu, 04 November 2018

MENGASAH RASA MELALUI PELAJARAN SASTRA



Banyak orang mulai menyadari bahwa keunggulan, keberhasilan dan kesuksesan seseorang bukan semata-mata ditentukan atau diukur dengan kecerdasan intelektual atau IQ. Bila ada sebuah pengujian atau tes IQ, dan orang tersebut mendapatkan hasil yang tinggi belum tentu menjamin aspek psikomotor dan afektif orang tersebut juga baik. Hal  yang dibutuhkan dalam kehidupan bukan hanya kecerdasan dalam menciptakan sesuatu, tetapi juga kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan emosi menjadi salah satu hal yang penting dalam menjalani dan menghadapi  kehidupan dengan berbagai tantangannya. Emosi dihubungkan dengan perasaan seseorang dalam menhdapi suatu hal. Perasaan ini menentukan afeksi/sikap yang akan menjadi pendorong untuk melakukan tindakan.

Mengolah atau mengasah perasaan merupakan bagian dari membangun karakter.  Pendidikan mengasah rasa dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bukan hanya melalui penjelasan tentang definisi umum karakter/budi pekerti semata, tetapi melalui pelbagai cara yang dilakukan, salah satunya melalui SASTRA. Tak jarang kita melihat bahwa banyak orang yang terharu dan bahkan meneteskan air mata saat membaca novel, puisi, dan karya sastra lainnya. Di sini tampak bahwa karya sastra juga mampu menyentuh perasaan seseorang dan tentunya juga mampu menumbuhkan karakter seorang pribadi. Melalui karya sastra kita dapat mengasah perasaan, berempati, lebih menghargai orang lain, memperhalus perasaan dan membuat diri kita menjadi lebih mampu memahami orang lain.

Karya sastra banyak mengemukakan permasalahan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan psikologi atau jiwa peserta didik. Maka semakin banyak siswa yang membaca sastra, semakin kayalah siswa akan pengalaman batin sehingga akan terbentuk pribadi yang lebih arif dalam menghadapi problema kehidupan.

Namun, tantangan guru adalah banyak anak yang tidak suka membaca. Inilah yang dihadapi guru Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menekankan budaya gemar membaca. Bukan hanya tugas guru bahasa Indonesia,  tugas utama ini juga terkait dengan pengelola pustaka atau pustakawan sekolah untuk menyuguhkan bahan bacaan yang bermanfaat dan berguna untuk membentuk kebiasaan gemar membaca dikalangan sekolah.

Pembelajaran sastra harus berorientasi pada kegiatan pengalaman bersastra bukan pada pengembangan teori-teori sastra. Inilah “PR” bagi guru Bahasa Indonesia (termasuk saya) yang harus terus meningkatkan kemampuan berliterasi dan bersastranya. Seorang guru hendaknya (mampu) memberikan contoh dan memberikan pembelajaran terhadap pendalaman materi sastra.

Sastra itu berbicara tentang kehidupan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa secara kasat mata, pembelajaran sastra di sekolah terlihat hanya sekedar “menumpang” pada pelajaran Bahasa Indonesia saja, meskipun namanya adalah pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru terpaksa menjelaskan mengenai sastra hanya berdasarkan teori yang ada di dalam buku, karena waktu yang tersedia tidak mencukupi jika harus mempraktikkan pembelajaran mengenai sastra lebih mendalam.

Dapat kita pahami bahwa pembelajaran sastra di sekolah belum sepenuhnya berjalan optimal. Padahal jika kita cermati, pembelajaran sastra memiliki banyak manfaat, bukan hanya sebagai pelengkap nilai kognitif dalam buku raport, melainkan dapat menjadi sarana pengembangan diri bagi siswa. Seperti yang sudah diungkapkan di atas pembelajaran sastra dapat memaksimalkan pengendalian terhadap kecerdasan emosional serta mengembangkan paradigma berpikir siswa berkaitan dengan kehidupan sosial. Tentunya dengan mempelajari kehidupan masyarakat dalam karya sastra sangat berguna agar anak mampu  berinteraksi dalam hubungan sosial dan diterima dengan baik di lingkungan masyarakat.

Pembelajaran sastra berperan dalam mengasah kecerdasan emosional dan pola pikir siswa. Mengapa demikian? Karena saat membaca karya sastra (contonya novel), secara tidak langsung, siswa ikut beradaptasi dengan alur cerita di dalam novel tersebut. Misalnya saja ketika cerita di dalam novel tengah menyajikan bagian-bagian yang menyedihkan, maka siswa akan terangsang untuk ikut berempati kepada tokoh yang sedang mengalami kesedihan. Begitupun juga jika jalan cerita di dalam novel tengah menggambarkan konflik yang sedang klimaks. Lalu, di saat konflik sudah menurun (antiklimaks) dan solusi sudah didapat, maka penyelesaian konflik pun dapat terwujud dengan baik. Dengan demikian, siswa dapat memetik pelajaran berharga bahwa di setiap kesulitan (konflik), jika mampu mengendalikan diri, maka akan mudah mendapatkan solusi.

Pengendalian diri tersebut termasuk ke dalam aspek kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional dapat ditingkatkan dan dampaknya dapat dirasakan, baik oleh diri siswa sendiri, maupun orang lain yang berada di sekitar mereka. Setidaknya ada 5 aspek yang membangun kecerdasan emosi, yaitu:

1. Memahami emosi-emosi sendiri

2. Mampu mengendalikan emosi-emosi sendiri

3. Memotivasi diri sendiri

4. Memahami emosi-emosi orang lain

5. Mampu membina hubungan sosial yang baik



Gambaran dari kelima aspek tersebut dapat kita temukan di dalam pembelajaran sastra, khususnya dalam karya sastra yang berupa cerita fiksi (cerpen/novel).  Membaca cerpen dan novel dapat membantu siswa dalam memahami emosi para tokoh dan merefleksikannya kepada diri sendiri, serta belajar untuk mengendalikan emosi tersebut.

Kiranya contoh di atas memicu para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kegiatan bersastra peserta didiknya. Selain dapat mengelola dan mengendalikan emosi dengan baik, efek positif yang didapat oleh siswa adalah dapat memiliki hubungan sosial yang berkualitas. Kemampuan bersosialisasi erat hubungannya dengan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Orang yang cerdas secara emosi mampu menjalin hubungan sosial dengan baik dan mampu menghargai orang lain sebagai pribadi yang setara. Dengan bersastra, rasa semakin terasah untuk mampu berempati dengan orang lain. (Ch. Enung Martina)

Sumber utama : Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence (Terjemahan). Jakata: PT    Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. 2000. Working With Emotional Intelligence           (Terjemahan). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sabtu, 27 Oktober 2018

INTEGRITAS SEORANG GURU



Saat ini saya berada di kolam renang Damai Indah Golf, BSD. Melihat anak-anak remaja dengan otot yang baru tumbuh dengan  badan mereka yang tinggi dan canggung. Mereka berenang sambil bersenda gurau. Nampak keakraban di antara mereka. Mereka adalah masa depan. Gizi yang baik akan membuat merak bertumbuh baik secara fisik. Didikan yang baik akan membuat karakter mereka juga terbentuk dengan baik. 


Ada hubungan erat antara bertumbuhnya fisik dan juga karakter mereka. Karakter yang kuat akan mampu menjadikan mereka menjadi pribadi dengan integritas tinggi. Saya membahasakan integritas sebagai jati diri. Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan yang dimiliki. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan  kebenaran dari tindakan seseorang. Ada kesinambungan antara tindakan dan kata-kata. Ada  konsistensi antara perkataan dan tindakan dengan  nilai hidup dan prinsip.
Nampak, ciri seorang yang berintegritas ditandai oleh satunya kata dan perbuatan bukan seorang yang kata-katanya tidak dapat dipegang. Seorang yang mempunyai integritas bukan tipe manusia  dengan banyak wajah dan penampilan yang  disesuaikan dengan motif dan kepentingan pribadinya.Integritas menjadi karakter kunci bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan (trust) dari pegawainya. Pimpinan yang berintegritas  dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi  tindakannya. Guru adalah seorang pemimpin. Maka integritas bagian dari pribadi seorang guru.

Salah satu nilai yang saya pegang dalam hidup saya adalah kesetiaan. Kesetiaan dalam  dalam melakukan sesuatu. Kesetiaan pada pilihan. Pilihan membawa seseorang pada komitmen untuk menjalaninya. Terus dan tanpa bosan. Itulah kesetiaan.

Sebagai pendidik kita bekerja berhadapan dengan banyak pribadi yang dipercayakan menjadi anak didik kita. Kesetiaan mendampingi dan mendidik mereka merupakan bagian dari yang semestinya kita lakukan. Kita dituntut untuk tabah dan sabar juga dalam menghadapi mereka. Kesabaran merupakan bagian dari kesetiaan. Kesetiaan bagian dari integritas. 

Dalam perekonomian kita mengetahui pergerakan mata uang, entah itu naik atau turun, selalu berada di kisaran titik support dan titik resistance. Titik support adalah titik terendah dari pergerakan mata uang hari itu. Titik resistance adalah titik tertinggi dari pergerakaan mata uang. Jika mata uang bergerak naik maka selalu berada di bawah titik resistance, sebaliknya jika bergerak turun maka selalu berada di atas titik support.

Demikian pula dengan integritas kita! Tiap hari integritas kita naik dan turun.
Yang menjadi titik support dan resistancenya adalah titik benar dan titik salah.
Kadang kita bergerak melawan integritas kita, tetapi sering juga bergerak mengikuti integritas kita.


Teori berikutnya mengatakan bahwa jika kita sudah menembus titik pertama maka kita juga akan menembus titik kedua, ketiga, dst. Lalu kemudian stabil sesuai dengan kekuatan pasar. Jika perjalanan atau keputusan kita sesuai dengan integritas kita, atau menembus titik benar, maka kita akan menembus titik benar berikutnya...sehingga semakin lama integritas kita akan semakin kuat. Sebaliknya jika titik salah yang kita tembus, maka kita akan menembus titik salah beriktunya....dan akhirnya kita kehilangan integritas atau jati diri kita.


Saya tidak tahu pilihan Anda. Apakah Anda memilih mempertahankan integritas atau membiarkan nafsu anda mengubah jati diri Anda. Diri kitalah yang tahu hal ini. Integritas yang kita pertahankan dengan hidup kita akan dibalas setimpal sesuai dengan perjuangan kita. Jadi...untuk teman – teman yang berjuang untuk tetap berintegritas di tengah dunia ini yang terkadang bertentangan dengan integritas, tetap maju dan berjuang. Pertahankan integritas diri kita. Pencipta Semesta tidak tidur. Tetaplah menjadi guru yang berintegritas! (Ch. Enung Martina)


Jumat, 26 Oktober 2018

MEMILIH SEKOLAH UNTUK ANAK ZAMAN NOW



Tanggapan Buku:

Profil Buku
Judul: Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now
Penerbit: Buah Hati – TemanTakita.com
Penulis: Bukik Setiawan, Andrie Firdaus & Imelda Hutapea
Jumlah Halaman: 144 + XI
ISBN : 978-602-7652-96-5

Pertanyaan yang mengejutkan:
Tahukah Anda bahwa sekolah terbaik tidak baik untuk anak? Bahwa cara belajar Sekolah Favorit ternyata berdampak negatif pada anak? Bahwa kebanyakan sekolah tidak menyiapkan Anak Zaman Now hidup mandiri?
Membaca pertanyaan ini sungguh mengejutkan bagi saya sebagai seorang pendidik dan seorang ibu dari anak zaman now, tetapi saya sendiri ibu-ibu zaman old.
Ternyata memang zaman berubah! Teknologi berkembang! Cara kita mendidik anak dan memilih sekolah pun sudah saatnya berubah!
Saya terbengong dengan beberapa pernyataan yang ditulis oleh tiga serangkai penulis buku berjudul Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now. Bukik Setiawan, Imelda Hutapea, dan Andrie Firdaus memberikan hal-hal yang membuka saya sebagai seorang pendidik juga orang tua tentang pendidikan anak di zaman sekarang.
Penulis buku ini Bukik Setiawan seorang aktivis pendidikan, penerima penghargaan Champions for Children dari UNICEF Indonesia, serta penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir. Selain itu juga Imelda Hutapea seorang ahli dan praktisi pendidikan anak usia dini, berpengalaman sebagai guru di berbagai sekolah, pelatih guru, dan konsultan lepas pendidikan. Yang ketiga adalah Andrie Firdaus seorang Manajer Pengembangan SDM yang berpengalaman di berbagai industri, ahli karier protean, pelatih dan penulis buku Bakat Bukan Takdir.
Ketiganya melihat betapa pentingnya sebagai rang tua memahami latar belakang zaman anak-anak bertumbuh. Pendidikan yang diberikan kepada anak-anak harus disesuaikan dengan kebutuhan anak yang hidup pada masa kini. Pendidkan tidak bisa mengawang-ngawang bak menara gading yang tak berpijak pada kenyataan sekarang dan di sini.
Ada tiga poin penting yang dibahas di buku ini yaitu memahami anak zaman now, memahami tantangan kerja anak zaman now, memilih sekolah untuk anak zaman now.
Zaman sekarang sekolah tumbuh berkembang bak cendawan di musim penghujan memberi banyak pilihan pada orangtua. Sementara anak-anak kita tumbuh di zaman serba teknologi dengan b erbagai kemudahan yang ditawarkan. Maka,  lahirlah Anak Zaman Now! Mereka mempunyai karakteristik yang berbeda dan akan menghadapi tantangan berbeda pula di masa depan. Ada banyak pekerjaan yang akan punah. Ada banyak pekerjaan baru yang lahir.
Pekerjaan yang dapat diotomatiskan akan diambil alih oleh robot. Lihat saja penjaga gerbang tol dan kasir bank. Bahkan media Beritagar.id membuat laporan sepakbola dengan menggunakan robot. Sementara, kombinasi teknologi, kreativitas dan sentuhan emosi, justru menciptakan pekerjaan baru. Lihat saja di Youtube, anak-anak muda mengeruk uang dengan membuat konten kreatif dan penuh sentuhan emosi.
Adakah sekolah yang tepat untuk Anak Zaman Now? Pada zaman industri, kebanyakan pekerjaan menuntut kepatuhan dan keseragaman. Tidak heran bila sekolah zaman industri cenderung melakukan penyeragaman cara, konten dan penilaian keberhasilannya. Untuk Anak Zaman Now, sekolah zaman industri tidak lagi memadai.
Anak Zaman Now butuh sekolah yang menumbuhkan, yang membantu anak-anak mengenali dan mengembangkan potensi uniknya. Bukan hanya pada tataran pemahaman, buku ini dilengkapi dengan panduan observasi dan wawancara yang langsung dapat digunakan orangtua untuk memilih sekolah yang tepat.
Buku ini mengajak pembaca memahami karakteritik Anak Zaman Now, tantangan kerja yang dihadapinya serta keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Isi buku ini juga memapaparkan kebiasaan lama belajar yang sering kita saksikan dan alami. Setelah itu, bagian ini memaparkan cara kerja otak dalam proses belajar dan melakukan perbandingan cara lama dengan cara baru belajar. Pada akhirnya dipaparkan cara belajar untuk Anak Zaman Now.
Selain itu, cara memahami sekolah berdasarkan komponen-komponenya sehingga orangtua bisa mendapat pemahaman yang utuh. Setelah itu dipaparkan salah kaprah dalam memilih sekolah yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Pada bagian akhir, dipaparkan pilihan sekolah yang dibutuhkan Anak Zaman Now. memaparkan faktor dan langkah yang perlu dilakukan orangtua dalam memilih sekolah. Bab keempat  dilengkapi dengan panduan observasi dan panduan wawancara yang memudahkan orangtua dalam memahami dan menilai sekolah yang tepat untuk anaknya.
Bab kelima adalah bab paling ringkas yang berisi strategi yang mungkin dilakukan orangtua bila tidak mendapatkan sekolah yang dibutuhkan anaknya. Sedangkan bab keenam memaparkan konsep pendidikan anak usia dini yang dilengkapi dengan panduan observasi dan panduan wawancara memilih PAUD untuk Anak Zaman Now. Yang jelas pendidikan terbaik bukan pada zaman dahulu, bukan pula pada zaman sekarang, tetapi  terbaik pada zaman mereka berada dan hidup.  ( Ch. Enung Martina)



Senin, 08 Oktober 2018

Menemukan Tujuan Hidup (2)


Mengevaluasi Hasrat dan Ketertarikan


(Romo Rafael)
Melanjutkan artikel sebelumnya tentang tujuan hidup yang ditanyakan seorang murid kelas IX. Akhirnya saya menemukan hal-hal yang menarik berkaitan dengan pertanyaan tersebut. Salah satunya bahwa untuk menentukan tujuan hidup juga kita harus mengevaluasi diri tentang hasrat dan ketertarikan diri. Artikel ini akhirnya penulis jadikan teks GLS (Gerakan Literasi Sekolah) untuk kelas IX.

Salah satu faktor yang membuat hidup seseorang tidak bahagia adalah kurangnya pengetahuan akan apa yang sesungguhnya mereka inginkan dalam hidup. Jika saat ini kita merasa kurang bahagia (atau hidup kita terasa kurang terpenuhi), kemungkinan besar kita perlu kembali mengevaluasi tujuan hidup kita. Proses ini memang sulit dan menantang (terutama karena saat melakukannya, Anda mungkin akan menyadari bahwa selama ini hidup kita berjalan di “jalur yang salah”), namun sangat penting untuk dilakukan. Ingat, hidup memang hanya terjadi satu kali; namun jika dijalani dengan benar dan bahagia, satu kali pun cukup.


1.Miliki jurnal

Menulis jurnal atau buku harian adalah cara ampuh untuk mengubah hidup dan perspektif Anda. Selain itu, melakukannya juga akan membantu Anda mengeksplorasi tujuan hidup, hasrat, serta sumber kebahagiaan Anda.[1]

·         Jangan memusingkan format tulisan Anda. Ingat, jurnal tersebut adalah milik Anda, bukan milik orang lain. Dengan kata lain, satu-satunya orang yang akan membacanya adalah Anda. Jangan ragu menuliskan segala sesuatunya dengan jujur dan terbuka.


2 Ajukan pertanyaan kepada diri Anda

Sebelum menentukan tujuan hidup, tentukan terlebih dahulu apa yang Anda sukai, apa yang saat ini sedang Anda lakukan, dan perubahan apa yang perlu dilakukan untuk membuat hidup Anda terasa lebih bermakna. Beberapa pertanyaan yang perlu Anda ajukan adalah:[2][3]

·         Kapan saat-saat paling membahagiakan dalam hidup Anda?

·         Apa yang membuat Anda merasa bangga dengan diri sendiri?

·         Kualitas apa yang paling Anda kagumi dari orang lain?

·         Apa yang membuat Anda benar-benar merasa hidup dan berenergi?

·         Seberapa bahagianya Anda dalam kehidupan sehari-hari?

·         Jika sisa hidup Anda hanya satu minggu, apa yang akan Anda lakukan untuk mengisinya?

·         Apa "keharusan" yang menutupi "keinginan" Anda?

·         Jika ada satu hal di dunia ini yang bisa Anda ubah, apakah itu?

·         Satu perubahan apa yang bisa membuat hidup Anda lebih bahagia?

3. Tuliskan hasrat dan ketertarikan Anda

Tuliskan hal-hal yang dengan senang hati Anda lakukan untuk mengisi waktu luang; hal-hal ini bisa berhubungan dengan pekerjaan, kehidupan pribadi, atau kehidupan rumah tangga Anda dan seharusnya mampu membuat Anda merasa bahagia saat melakukannya. Dengan kata lain, seharusnya Anda rela melakukannya meski tidak dibayar;[4] selain itu, seharusnya hal-hal tersebut dapat membuat Anda lupa waktu.

4.Tuliskan segala hal yang Anda sukai

Hal-hal dan orang-orang yang Anda cintai adalah faktor penting untuk menentukan kualitas hidup dan cara Anda mengisi waktu luang.[5] Mengetahui apa saja hal-hal atau siapa saja orang-orang yang Anda cintai ampuh membantu Anda untuk lebih berfokus pada hasrat dan tujuan hidup Anda ke depannya. Cobalah berfokus pada hal-hal yang Anda sukai dari hati (bukan yang Anda sukai setelah melewati proses penilaian secara rasional); niscaya Anda telah selangkah lebih dekat dengan hasrat Anda yang sesungguhnya.[6]

·         Jika orang-orang yang paling Anda cintai adalah keluarga, kemungkinan besar hidup Anda tidak akan bahagia dan terpenuhi jika hanya didominasi oleh karier (terutama karena karier tersebut akan menjauhkan Anda dari sumber kebahagiaan Anda yang sesungguhnya).

5.Temukan kebahagiaan Anda

Sedikit berbeda dengan menemukan hasrat dan ketertarikan, menemukan kebahagiaan menuntut Anda untuk sedikit lebih berfokus.[7] Cobalah memikirkan hal-hal yang membuat Anda benar-benar bahagia; pikirkan kapan terakhir kalinya Anda tertawa terbahak-bahak sampai rahang Anda sakit atau tersenyum tiada henti sampai pipi Anda terasa pegal.

·         Anda juga bisa memikirkan jenis permainan yang paling Anda sukai dan nikmati sewaktu kecil.[8] Apakah melakukan permainan yang sama (atau kegiatan lain yang mirip dengan permainan tersebut) mampu mengembalikan kebahagiaan masa kecil Anda?

6.Gunakan metode perencanaan mundur

Bayangkan diri Anda sudah berusia 90 tahun dan sedang menengok kembali ke belakang. Bayangkan pula bahwa Anda merasa bahagia karena sudah berhasil mewujudkan hidup yang menyenangkan dan bermakna.[9] Secara spesifik, imajinasikan apa saja yang membuat Anda merasa bahagia di usia 90 tahun, lalu manfaatkan gambaran tersebut untuk menentukan apa yang perlu Anda lakukan agar memiliki hidup yang bahagia dan terpenuhi di usia lanjut.

·         Misalnya, Anda membayangkan bahwa pada usia 90 tahun, Anda sudah dikelilingi oleh cucu-cucu yang lucu, tinggal di rumah pribadi dengan halaman yang luas, dan sukses membantu masyarakat di sekitar Anda untuk mewujudkan hidup yang lebih bahagia.

·         Imajinasi di atas menjelaskan bahwa Anda ingin memiliki keluarga, karier yang baik dan berguna bagi orang lain, dan menjalani hari tua di lokasi yang jauh dari keramaian.

·         Perencanaan mundur tersebut menyadarkan Anda bahwa Anda perlu memiliki anak pada usia 28 tahun, berkarier sebagai pekerja sosial pada usia 25 tahun, dan menjaga kesehatan dengan baik agar dapat hidup dengan bahagia di usia lanjut.



(Sumber: https://id.wikihow.com/Menemukan-Tujuan-Hidup)

Minggu, 23 September 2018

MENEMUKAN TUJUAN HIDUP



“ Bu, sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini utuk apa?” seorang anak perempuan berusia 15 tahun bertanya pada saya pada satu kali pertemuan di kelas pelajaran bahasa Indonesia.

Semakin tumbuh dewasa seseorang, maka dia akan makin bisa berpikir. Termasuk, dia akan berpikir sebetulnya untuk apa dia melakukan rutinitas-rutinitas yang kadang rasanya itu melelahkan, dan menyebalkan. Seperti misalnya pekerjaan Sekolah, Kuliah, Kantor, bisnis, Rumah tangga, dan lain-lain sebagainya.

Seperti yang dipikirkan oleh murid saya di atas.

Ketika rasa tidak enaknya terus memuncak, maka dia akan terus mempertanyakan, sebenarnya kenapa harus melakukan hal tersebut? Biasanya, jawabannya karena itu disuruh orang tua. Memang begitu yang diajarkan orang tua atau guru.

Selain itu, apa memang kita harus seperti itu terus sehingga nanti lulus pendidikan formal, kerja, nikah, punya anak; maka nanti anak kita akan kita buat ia mengulangi apa yang pernah kita alami juga?

Apabila pertanyaan tersebut tak terjawab, buat apa kita harus berdoa atau  sholat? Berarti sekali-sekali sholat/berdoa dan sesekali tidak, itu tidak  apa-apa? Buat apa kita sekolah, kuliah, kerja? Hidup kok jadi ribet hanya bolak-balik ke siklus yang sama.

Jawaban akan hal tersebut akan menjadi landasan kehidupan seseorang. Yang notabene jawaban tersebut akan senantiasa diemban dan dipraktikkan. Termasuk pada saat berinteraksi dengan orang lain, pada saat sekolah, bekerja, pada saat berekonomi, pada saat bersosial, bahkan sampai mengajak-ajak orang lain agar ikut mengemban keyakinan tertentu.

Seseorang atau sekelompok yang punya jawaban berupa keyakinan bahwa di balik alam semesta dan kehidupan ini ada Sang Pencipta Yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, tentunya akan berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki keyakinan akan hal itu.

“Sang Pencipta memberikan tugas kepada manusia, selama ia hidup. Karena kelak ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia, kemudian pada saat itu Sang Pencipta akan memintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya pada saat hidup di dunia. Apabila sesuai tugas, maka ia akan berada di suatu tempat yang sangat menyenangkan, yakni di Surga, untuk selama-lamanya. Kalau tidak, maka ia berpotensi akan berada di suatu tempat yang sangat menyengsarakan, yakni di Neraka, untuk selama-lamanya.” Begitu jawaban orang yang beragama.

Lantas pertanyaan kritis muncul seperti sebuah syair lagu :; kalau surga dan neraka itu tak ada, aakah saya dan Anda aka juga mempercayai Tuhan dengan segala kebaikan-Nya. Jawaban ada pada tiap individu.

Meski seandainya surga dan neraka itu tak ada, dengan keyakinan adanya Sang Pencipta, maka mereka akan menjalani hidupnya sebagaimana keyakinan itu. Pada saat berekonomi, berbudaya, bersosial, berpolitik; semuanya akan diusahakan agar sesuai dengan tugas yang diberi Tuhan. Jangan sampai menyimpang. Kalau menyimpang akan melukai orang lain yang juga berarti melukai Sang Pencipta. Karena itu jagalah agar tidak berbuat yang merugikan siapa pun.

Namun, bagi beberapa orang yang mempunyai keyakinan bahwa Sang Pencipta (Tuhan) tidak ada maka pandangan akan berbeda. Bagi  seseorang atau kaum yang punya jawaban berupa keyakinan bahwa alam semesta ini semuanya ada dengan sendirinya. Katanya, “Makhluk hidup itu berasal dari materi, dan kelak akan kembali lagi menjadi materi. Manusia itu hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama ia mampu hidup.” Pandangan hidupnya yang paling mendasar adalah dialektika materi.

Dengan jawaban seperti itu, maka dia akan melakukan hal-hal apa saja yang ia anggap layak dilakukan. Dia membuat sendiri hukum dan standarnya. Tentu dia seperti itu pada saat berekonomi, bersosial, dan berpolitik. Bebebrapa ideologi di dunia seperti sosialisme-komunisme mendasarkan pada dialektika materi. Namun, tetap ada hukum yang mengatur agar semuanya berjalan terorganisir. Kehidupan menjadi teratur bila semua orang taat aturan/hukum.

Apa pun keyakinannya, yang jelas bahwa faktanya kehidupan bersifat terbatas. Satu kehidupan kenyataannya hanya ada pada satu individu. Sekali selesai satu hidup individu, maka yah selesailah hidupnya individu itu. Ia tidak bisa punya hidup atau nyawa baru lagi. Tidak ada nyawa cadangan.

Dengan melihat fakta tentang kehidupan itu, maka MENJAGA KEHIDUPAN bagi yang percaya akan Sang Pencipta atau yang percaya akan dialektika materi, itu SANGAT PENTING. (Sumber utama www.teknikhidup.com dan beberapa sumber lain) :